SEJARAH TURUN DAN PENULISAN AL QUR AN - PERUBAHAN
SELAMAT DATANG DI DELOVER PUTRA SAOK LAWEH : ERICK YONANDA

Home » » SEJARAH TURUN DAN PENULISAN AL QUR AN

SEJARAH TURUN DAN PENULISAN AL QUR AN

Written By Erick Yonanda on Jumat, 15 Februari 2013 | Jumat, Februari 15, 2013

ULUMUL QUR AN
Tentang
SEJARAH TURUN DAN PENULISAN AL QUR AN

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini,Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, tim penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.


BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang Masalah

Islam sebagai agama universal, mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai aspek kehidupan, baik kehidupan duniawi maupun kehidupan ukhrowi. Salah satu ajaran islam adalah mewajibkan kepadanya untuk melaksanakn kegiatan pendidikan, karena merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi, demi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dengan maklah ini penulis ingin mengetahui mengenai sejarah turunnya Al- Qur’an yang lebih rinci dan mendetil, sehingga nantinya akan menjadi suatu ilmu dan mudah-mudahan bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari maupun kepada orang lain.

I.II Perumusan Masalah

1. Bagaimanakah sejarah Al-Qur’an diturunkan
2. Apa pengertian Al-Qur’an itu
3. Apa fungsi dan tujuan Al- Qur’an diturunkan
4. Apa hikmahnya Al-Qur’an diturunkan dengan cara berangsur-angsur

I.III Kegunaan Penulisan

1. Untuk mengetahui sejarah turunnya Al-Qur’an
2. Untuk mengetahui pengertian Al-Qur’an
3. Untuk mengetahui fungsi Al-Qur’an bagi umat manusia
4. Untuk mengetahui hikmah Al-Qur’an diturunkan dengan berangsur-angsur

BAB II
PEMBAHASAN

II.I Sejarah Turun Dan Penulisan Alqur an
A .Nuzul Al-qur an
Pengertian
Alqur an adalah kalam allah yang tiada tandingnya (mukjizat),yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW,penutup para nabi dan rasul dengan perantara malaikat jibril.,dimulai dengan surat alfatihah dan di akhiri dengan surat annash ,dan ditulis dalam mushaf mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir (kepada orang banyak) serta mempelajarinya merupakan suatu ibadah.
Allah menurunkan alqur an agar dijadikan undang undang bagi umat manusia dan petunjuk kebenaran rasul dan penjelas atas kenabian dan kerasullan ,juga sebagai alas an atau hujjah di hari kemudian bahwa alqur an itu benar benar diturunkan dari zat yang bijaksana dan lagi terpuji .nyatanya bahwa alqur an adalah mukjizat abadi yang menundukkan semua generasi dan bangsa sepanjang masa.(1)

B .Hikmah Turunnnya Al qur an 
Turunya alqur an secara berangsur angsur itu mengandung hikmah yang nyata serta rahasia yang mendalam yang hanya diketahui oleh orang orang alim atau pandai dapat kami simpulkan garis besarnya sebagai berikut :
1 .Meneguhkan hati nabi Muhammad saw dalam menghadapi celaan dari orang
orang musrik
2 .Meringankan nabi dalam menerima wahyu
3 .Mempermudah dalam menghapal al qur an dan memberi pemahaman bagi kaum muslimin
4 .Tadarruj (selangkah demi slangkah ) dalam menetapkan hukum samawi
5 . Sejalan dengan kisah kisah yang terjadi dan meningkatkan atas kejadian itu.
6 .Petunjuk terhadap asal (sumber) bahwa sanya al qur an diturunkan da zat yang maha bijaksana.

B .Penulisan Al-qur an
Alqur an tidak diturunkan sekaligus alqur an diturukan secara beangsur angsur selama 22 tahun 22 bulan 22 hari .oleh para ulam membagi masa turunya al qur an menjadi 2 periode yaitu periode makah dan periode medinah .periode makah berjalan selama 12 tahun masa kenabian, sedangkan masa medinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung yaitu selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu itu di sebut surat madaniyah.



II.II Pengumpulan Al Qur An Pada Masa Nabi Muhammad Saw
Pengumpulan ayat ayat al qur an dilakukan dalam 2 periode yaitu:
1 .Periode nabi muhammad saw
2 . Periode kulafaur rasyidin. (2)

A .pengumpulan al qur an pada masa nabi muhammad saw terbagi atas 2 kategori
A .pengumpulan dalam dada yaitu dengan cara menghapal menghayati dan mengamalkan
B .pengumpulan dalam dokumen dengan cara menulis pada kitab atau diwujudkan dalam bentuk ukiran .
B .Pengumpulan alqur an pada masa abu bakar
Rasullullah berpulang kerahmatullah setelah beliau selesai menyampaikan risalah dan menyampaikan amanat serta memberi petunjuk kepada umatnya untukmenjalankan agama yang lurus .setelah beliau wafat kekhalifahan dipegang oleh abu bakar ash shidik r.a .pada masa pemerintahannya ia banyak menghadapi mala petaka berbagai kesulitan dan problema yang rumit diantaranya memerangi orang orang yang murtad (keluar dari agama islam ) yang da dikalangan orang orang islam serta memerangi pengikut musailamah al khadzab.




_____________
2.Ibid hal.68-93.
Ketika terjadi perang yamamah banyak kalangan sahabat yang hapal al qur an dan ahli bacanya yang gugur dalam medan perang jumlah lebih dari 70 orang haffal ternama .melihat banyaknya penghapal al qur an yang gugur umar merasa prihatin lalu beliau menemani abu bakar yang sedang dalam keadaan sedih dan sakit.
umar bermusyawarah dengannya supaya mengumpulkan alqur an karena kawatir akan banyaknya haffal al qur an yang gugur .pada awalnya abu bakar ersa ragu namun setelah dijelaskan oleh umar tentang nilai nilai positifnya ia menerima ussul tersebut ,dan allah melapangkan dada abu bakar untuk melaksanakan tugas mulia tersebut. Ia mengutus zait bin tsabit dan menyuruhnya agar segera menangani dan mengumpulkan la qur an dalam suatu mushaf mula mula zait pun merasa ragu kemudia ia pun dilapangkan allah sebagaimana halnya allah melapangkan dada abu bakar dan umar.(3)
Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam sahih-nya tentang kisah pengumpulan Al-Quran ini.
karena pentingnya maka di sini kami menikilnya sebagai berikut :








____________
3.Ibid hal 100.
“Dari Zaid bin Tsabit r.a bahwa ia berkata,“Abu Bakar mengirimkan berita kepadaku tentang korban pertempuran yamamah, yang diantaranya adalah 70 orang penghapal Al-Quran.pada saat itu Umar berada di samping Abu Bakar.kemudian Abu Bakar mengatakan,”Umar telah dating kepadaku dan ia mengatakan,sesungguhnya pertumpahan darah pada pertempuran yamamah banyak merenggut nyawa para penghapal Al-Quran.Aku khawtir gugurnya para penghapal Al-Quran akan menghilangkan Al-Quran yang terkumpul di dada mereka.Aku berpendapat agar Engkau memerintahkan seseorang untuk mengumpulkanAl-Quran.Abu Bakar menjawab,bagaimana aku harus melakukan suatu perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasul SAW.?Umar r.a menjawab,Demi Allah,perbuatan tersebut adalah baik.Ia berulang kali mengucapkannya sehingga Allah melapangkan dadaku sebagaimana Ia melapangkan dada Umar.Dalam hal itu aku sependapat dengan Umar.kamudian,Abu Bakar berkata kepada Zaid,”Engkau adalah seseorang pemuda yang tangkas,aku tidak meragukan kemampuanmu.Engkau adalah penulis wahyu dari Rasulullah SAW.Oleh karena itu, telitilah Al-Quran dan kumpulkanlah…!”Zaid menjawab,”Demi Allah andaikata aku dibebani tugas untuk memindahkan gunung,tidaklah akan berat bagiku jika dibandingkan dengan tugas yang dibebankan kepadaku ini…”Aku mengatakan,”Bagaimana Anda berdua akan melakukan pekerjaan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.?”Abu Bakar menjawab,”Demi Allah,hal ini adalah baik.”dan ia mengulanginya berulang kali sampai aku di lapangkan dada oleh Allah SWT.sebagaimana ia telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.
Selanjutnya,aku meneliti dan mengumpulkan Al-Quran dari kepingan batu, pelapah kurma dan dari sahabat-sahabat yang hapal Al-Quran, sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surat At-Taubah dari Abu Khuzaimah Al-Anshari yang tidak terdapat pada yang lainnya.(4)

Lembaran-lembaran tersebut disimpan pada Abu Bakar sampai Ia wafat.
Kemudian diserahkan kepada Umar sampai ia wafat dan kemudian disimpan da rumah Hafsah binti Umar.”

Beberapa Keistimewaan Mushaf Abu Bakar As-Siddiq

Lembaran-lembaran yang dikumpulkan dalam satu mustaf pada masa Abu Bakar memiliki beberapa keistimewaan yang terpenting:

1 .Diperoleh dari hasil penelitian yang sangat mendetail dan kemantapan yang sempurna.
2.Yang tercatat dalam mustaf hanyalah bacaan yang pasti ,tidak ada naskh bacaanya.
3.Ijma umat terhadap mustaf tersebut secara mutawatir bahwa yang tercatat adalah ayat-ayat Al-Quran.
4.Mustaf mencakup qiraat sabaah yang dinukil berdasarkan riwayat yang benar-benar sahih.
Ali berkata,”Orang yang paling berjasa dalam hal Al-Quran ialah Abu Bakar r.a Ia adalah orang yang pertama kali mengumpulkan Al-Quran/Kitabullah.”
Pengumpulan Al-Quran adalah perbuatan yang mulia dan abadi.
Sejarah senantiasa akan mengenangnya dengan keindahan dan pujian yang harum terhadap Abu Bakar karena pengarahan dan pengawasannya,dan kepada Zaid bin Tsabit karena pelaksanaan dan usahanya.(5)
-Al-Quran pada masa Umar bin Khatab
Pada khalifah Umar bin Khatab kegiatan penyiaran dan dakwah
Islam demikian pesat sehingga daerah Khalifah islam sampai ke Mesir dan Persia
Khalifah Umar bin Khattab mengarahkan pada kegiatan dakwah tersebut.
Kumpulan Al-Quran yang disimpan oleh Abu Bakar kemudian disimpan oleh Umar
Hanya disalin menjadi satu Shuhuf.Hal ini dimaksudkan agar Al-Quran yang telah dikumpulkan itu terpelihara dalam bentuk tulisan yang original atau bersifat standararisasi.pada masa itu banyak para sahabat yang hafal Al-Quran yang dapat mengajarkan kepada sahabat yang lain.Setelah Umar wafat Shuhuf itu disimpan oleh Hafsah bin Umar dengan pertimbangan bahwa Hafsah adalah istri nabi Muhammad S.A.W dan putri Umar yang pandai membaca dan menulis.(6)












_______________
4.Ibid hal.100-101.
5.Ibid hal.102-105.
6.Pendidikan Agama Islam.Cv Sindunata.Deponegoro.1987.
BAB III
PENUTUP
III.I Kesimpulan
Dari uraian yang telah penulis paparkan dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa apa yang telah dilakukan para sahabat yaitu dengan mengumpulkan Al-Quran adalah sesungguhnya suatu perbuatan yang sangat mulia karena dengan nama Allah mereka berusaha menjaga kelestarian dari ayat-ayat Al-Quran yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw secara mutawatir melalui perantara Malaikat Jibril adalah suatu kemukjizataan yang tak pernah terbanding nilainya.Al-Quran merupakan pedoman dasar menuju jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

III.II Saran
Dengan adanya makalah ini penulis menyarankan agar kita(khususnya penulis sendiri)hendaknya dapat mempelajari ilmu-ilmu Al-Quran karena sesungguhnya Al-Quran merupakan mukjizat terbesar bagi umat Islam yang dapat dijadikan pedoman hidup baik di dunia dan di akhirat.Al-Quran merupakan kitab dari Allah yang kaya akan ilmu dan tak akan pernah habis untuk dikaji,karena dengan mempelajari Al-Quran kita akan mengetahui Maha Besarnya Allah bagi segala makhluk yang diciptakannya.





DAFTAR PUSTAKA
Muhammad Ali Ash-Shabuuniy.Studi Ilmu Alqur an.Bandung CV Pustaka Setia,Cet.1.1999.
ULUMUL HADIST
Tentang
KODIFIKASI HADIST

Disusun oleh :
Ida Marni
Yeni Nofriani
Dosen pembimbing :
AWWALUDIN,SHI,MA
YAYASAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATRA BARAT (UISB)
SOLOK NAN INDAH
(YP3 UISB SNI)
2010 / 2011
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini,Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, tim penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

BAB I

PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang Masalah

Hadis sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an telah di sepakati oleh hampir seluruh ummat Islam sebagai salah satu undang-undang yang wajib di taati. Namun demikian telah di akui pula bahwa hadis itu sendiri di dalamnya masih banyak hal yang bersifat kontriversi, dimana salah satu hal penyebabnya adalah,terjadinya periwayatan hadis secara maknawi.
Sehingga sering menimbulkan interpretasi yang bermacam-macam terhadap pemahaman suatu matan atau sanad yang ada dalamnya. Untuk menjembatani banyaknya perbedaan pemahaman terhadap matan hadis tersebut, telah dilakukan berbagai pendekatan interpretasi yang di anggap paling tepat sebagai upaya untuk menjelaskan kandungan makna hadis yang telah di bukukan dalam berbagai macam kitab-kitab hadis dengan cara memberi ulasan atau komentar-komentar, sehingga memudahkan untuk dijadikan pedoman dan rujukan bagi generasi selanjutnya.
Salah satu kegiatan yang di lakukan oleh para ulama hadis dalam rangka mengembangkan, mempelajari dan memudahkan pemahaman terhadap makna dan isi kitab-kitab hadis yang ada adalah dengan cara menyusun kitab-kitab syarah, yaitu suatu kitab hadis yang di dalamnya memuat uraian danm penjelasan kandungan hadis dari kitab tertentu dan hubungannya dengan dalil-dalil yang lain, baik dari al-Qur’an, hadis maupun dari kaidah-kaidah syara’ lainnya.
Kegiatan syarah hadis sesungguhnya merupakan salah satu wujud perhatian ulama hadis dalam usahanya melestarikan hadis sebagai sumber hukum Islam. Dan dalam mesyarah kitab-kitab himpunan hadis, kebanyakan para pensyarah mempergunakan sejumlah teknik, metode atau pendekatan interpretasi sesuai dengan kecenderungan dan kapasitas ilmiah yang mereka miliki.

BAB II
PEMBAHASAN

II.I Pengertian Kodifikasi

Yang dimaksud kodifikasi (tadwin) adalah mengumpulkan, menghimpun atau membukukan, yakni mengumpulkan dan menertibkannya. Adapun yang dimaksud dengan kodifikasi hadis adalah menghimpun catatan-catatan hadis Nabi dalam mushaf.

Antara kodifikasi (tadwin) hadis dan Jam’ul Qur’an memiliki perbedaan. Sebagaimana dikatakan M. Quraisy Syihab , pencatatan dan penghimpunan (tadwin) hadis Nabi tidak sama dengan pencatatan dan penghimpunan (tadwin) hadis Nabi tidak sama dengan pencatatan dan penghimpunan al-Qur’an (Jam’ul Qur’an) . Dalam tadwin hadis, tidak dibentuk tim, sedangkan dalam Jam’ul Qur’an dibentuk tim . Kegiatan penghipunan hadis dilakukan secara mandiri oleh masing-masing ulama ahli hadis. Sekiranya penghimpunan hadis itu harus dilakukan oleh sebuah tim, niscaya tim itu akan menjumpai banyak kesulitan, karena jumlah periwayat hadis sangat banyak dan tempat tinggal mereka tersebar di berbagai daerah Islam yang cukup berjauhan.

Di samping itu, hadis Nabi tidak hanya termuat dalam satu kitab saja. Kitab yang memuat hadis Nabi cukup banyak ragamnya, baik dilihat dari segi nama penghimpunnya, cara penghimpunannya, masalah yang dikemukakannya, maupun bobot kualitasnya. Sedangkan kitab yang menghimpun Seluruh ayat al-Qur’an yang dikenal dengan Mushaf al-Qur’an hanya satu macam saja. Dengan demikian, penghimpunan hadis Nabi berbeda dengan penghimpunan al-Qur’an. 

Masa kodifikasi (tadwin) hadis terbagi dua, yaitu kodifikasi hadis yang bersifat pribadi (tadwin al-syakhshiy) dan kodifikasi hadis secara resmi (tadwin al-rasmiy). Kodifikasi yang bersifat pribadi belum menjadi kebijaksanaan pemerintah secara resmi sudah dimulai sejak masa Rasul. Sementara kodifikasi hadis secara resmi menjadi kebijaksanaan pemerintah secara resmi baru dimulai pada masa Umar ibnu AbdulAziz. [http://iwanbio02.blogspot.com/2009/05/kodifikasi-hadist.html]

II.II Hadist tentang penulisan hadist

Para penulis sejarah Rasul, ulama hadis, dan umat Islam semuanya sependapat menetapkan bahwa AI-Quranul Karim memperoleh perhatian yang penuh dari Rasul dan para sahabatnya. Rasul mengharapkan para sahabatnya untuk menghapalkan AI- Quran dan menuliskannya di tempat-tempat tertentu, seperti keping-keping tulang, pelepah kurma, di batu-batu, dan sebagainya.
Ketika Rasulullah SAW. wafat, Al-Quran telah dihapalkan dengan sempurna oleh para sahabat. Selain itu, ayat-ayat suci AI-Quran seluruhnya telah lengkap ditulis, hanya saja belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Adapun hadis atau sunnah dalam penulisannya ketika itu kurang memperoleh perhatian seperti halnya Al-Quran.
Penulisan hadis dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi, karena tidak diperintahkan oleh Rasul sebagaimana ia memerintahkan mereka untuk menulis AI- Quran. Diriwayatkan bahwa beberapa sahabat memiliki catatan hadis-hadis Rasulullah SAW. Mereka mencatat sebagian hadis-hadis yang pernah mereka dengar dari Rasulullah SA W.
Diantara sahabat-sahabat Rasulullah yang mempunyai catatan-catatan hadis Rasulullah adalah Abdullah bin Amr bin AS yang menulis, sahifah-sahifah yang dinamai As- Sadiqah. Sebagian sahabat menyatakan keberatannya terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh Abdullah itu Mereka beralasan bahwa Rasulullah telah bersabda.



Artinya:
“Janganlah kamu tulis apa-apa yang kamu dengar dari aku selain Al- Quran. Dan barang siapa yang lelah menulis sesuatu dariku selain Al- Quran, hendaklah dihapuskan. ” (HR. Muslim)
Dan mereka berkata kepadanya, “Kamu selalu menulis apa yang kamu dengar dari Nabi, padahal beliau kadang-kadang dalam keadaan marah, lalu beliau menuturkan sesuatu yang tidak dijadikan syariat umum.” Mendengar ucapan mereka itu, Abdullah bertanya kepada Rasulullah SAW. mengenai hal tersebut. Rasulullah kemudian bersabda:



Artinya:
“Tulislah apa yang kamu dengar dariku, demi Tuhan yang jiwaku di tangannya. tidak keluar dari mulutku. selain kebenaran “.
Menurut suatu riwayat, diterangkan bahwa Ali mempunyai sebuah sahifah dan Anas bin Malik mempunyai sebuah buku catatan. Abu Hurairah menyatakan: “Tidak ada dari seorang sahabat Nabi yang lebih banyak (lebih mengetahui) hadis Rasulullah daripadaku, selain Abdullah bin Amr bin As.
Dia menuliskan apa yang dia dengar, sedangkan aku tidak menulisnya”. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa larangan menulis hadis dinasakh (dimansukh) dengan hadis yang memberi izin yang datang kemudian.
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa Rasulullah tidak menghalangi usaha para sahabat menulis hadis secara tidak resmi. Mereka memahami hadis Rasulullah SAW. di atas bahwa larangan Nabi menulis hadis adalah ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan akan mencampuradukan hadis dengan AI-Quran Sedangkan izin hanya diberikan kepada mereka yang tidak dikhawatirkan mencampuradukan hadis dengan Al-Quran. 

Oleh karena itu, setelah Al-Quran ditulis dengan sempurna dan telah lengkap pula turunannya, maka tidak ada Jarangan untuk menulis hadis. Tegasnya antara dua hadis Rasulullah di atas tidak ada pertentangan manakala kita memahami bahwa larangan itu hanya berlaku untuk orang-orang tertentu yang dikhawatirkan mencampurkan AI-Quran dengan hadis, dan mereka yang mempunyai ingatan/kuat hapalannya.

Dan izin menulis hadis diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunah untuk diri sendiri, dan mereka yang tidak kuat ingatan/hapalannya.

[ http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/penulisan-hadits.html]

II.III Hadis pada masa Khutafaur Rasyidin

Setelah Rasulullah SAW wafat para sahabat mulai menebarkan hadis kepada kaum muslimin melalui tabligh.Nabi Muhammad SAW bersadba; yang Artinya;
Sampaikanlah dari padaku, walaupun hanya satu ayat.’
Di samping itu Rasulullah berpesan kepada para sahabat agar berhati-hati dan memeriksa suatu kebenaran hadis yang hendak disampaikan kepada kaum muslimin. Ketika itu para sahabat tidak lagi berdiam hanya di Madinah. Tetapi meyebar ke kota-kota lain. Pada masa Abu Bakar dan Umar, hadis belum meluas kepada masyarakat. Karena para sahabat lebih mengutamakan mengembangkan A1 Qur’an
Ada dua cara meriwayatkan hadis pada masa sahabat:

• Dengan lafal aslinya, sesuai dengan yang dilafalkan oleh Nabi Muhammad SAW.
• Dengan maknanya, bukan lafalnya karena mereka tidak hafal lafalnya.

Cara yang kedua ini rnenimbulkan bermacam-macam lafal (matan), tetapi maksud dan isinya tetap sama. Hal ini mmbuka kesempatan kepada sahabat-sahabat yang dekat dengan Rasulullah SAW untuk mengembangkan hadis, walaupun mereka tersebar ke kota-kota lain.

I.IV Masa pembukuan hadis pada masa Umar bin Abdul Aziz

Ide pembukuan hadis pertama-tama dicetuskan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz pada awal abad ke 2 hijriyah. Sebagai Khalifah pada masa itu beliau memandang perlu untuk membukukan hadis. Karena ia meyadari bahwa para perawi hadis makin lama semakin banyak yang meninggal. Apabil hadis-hadis tersebut tidak dibukukan maka di khawatirkan akan lenyap dari permukaan bumi. Di samping itu, timbulnya berbagai golongan yang bertikai daIam persoalan kekhalifahan menyebabkan adanya kelompok yang membuat hadis palsu untuk memperkuat pendapatnya. Sebagai penulis hadis yang pertama dan terkenal pada saat itu ialah Abu Bakar Muhammad ibnu MusIimin Ibnu Syihab Az Zuhry.

Pentingnya pembukuan hadis tersebut mengundang para ulama untuk ikut serta berperan dalam meneliti dan menyeleksi dengan cermatl kebenaran hadis-hadis. Dan penulisan hadis pada abad II H ini belum ada pemisahan antara hadis Nabi dengan ucapan sahabat maupun fatwa ulama. Kitab yang terkenal pada masa itu ialalah Al Muwatta karya imam Malik.

Pada abad III H, penulisan dilakukan dengan mulai memisahkan antara hadis, ucapan rnaupun fatwa bahkan ada pula yang memisahkan antara hadis shahih dan bukan shahih. Pada abad IV H, yang merupakan akhir penulisan hadis, kebanyakan bukti hadis itu hanya merupakan penjelasan ringkas dan pengelompokan hadis-hadis sebelumnya.

Sejarah Penulisan Hadits

Hadits Nabi saw memang belum ditulis secara umum pada zaman Nabi saw masih hidup, karena ketika itu Al-Qur’an masih dalam proses diturunkan dan diurutkan. Bahkan Nabi saw melarang masyarakat umum dari menulis hadits, sebagaimana sabdanya :

لا تَكْتُبُوْا عَنِّيْ وَ مَنْ كَتَبَ عَنِّيْ غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَ حَدِّثُوْا عَنِّيْ وَ لا حَرَجَ


وَ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّار

“Janganlah kalian menulis sesuatu pun dariku, barangsiapa yang telah menulis dariku selain Al-Qur’an hendaklah dia menghapusnya, dan beritakanlah hadits dariku, yang demikian tidak berdosa, namun barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari api neraka.” ( HR. Muslim )

Walaupun demikian, Nabi saw memberikan izin kepada orang-orang tertentu untuk menulis hadits yang diyakini tidak akan terjadi tercampurnya tulisan Al-Qur’an dengan tulisan hadits pada mereka. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat :

فَقَامَ أَبُو شَاهٍ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ : اكْتُبُوْا لِي يَا رَسُولَ اللَّهِ
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : اكْتُبُوْا لأَبِيْ شَاهٍ

“Berdirilah Abu Syah, yakni seorang laki-laki dari penduduk Yaman, dia berkata : “Tuliskan untukku, wahai Rosullulloh !” Maka Rosululloh saw bersabda : “Tuliskan untuk Abu Syah !” ( HR. Al-Bukhori dan Abu Dawud )

Demikianlah usaha penulisan hadis pada masa khaIifah Umar bin Abdui Aziz yang selanjutnya disempurnakan oleh utama dari masa dan ke masa dan mencapai puncaknya pada akhir abad IV H.

[ http://zaifbio. sejarah-pembukuan wordpress.com/2010/05/03/ -had] 

I.V Faktor-faktor yang mendorong kodifikasi

Ada beberapa hal yang mendorong ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz
mengambil inisiatif untuk memerintahkan para gubernur dan
pembantunya untuk mengumpulkan dan menulis hadis,
diantaranya adalah :

  • Tidak ada lagi kekhawatiran bercampurnya hadisdengan Alquran, karena Alquran ketika itu telah dibuktikan dan disebarluaskan. 
  • Munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya hadis karena banyak para sahabat yang meninggal dunia akibat usia atau karena seringnya terjadi perperangan. [ mudasir,ilmu hadist,( Bandung : Pustaka Setia 1999) halman 106.]
  • Semakin maraknya kegiatan pemalsuan hadis yang dilatar belakangi oleh perpecahan politik dan perbedaan mazhab di kalangan umat Islam. Hal ini upaya untuk menyelamatkan hadis dengan cara pembukuannya setelah melalui seleksi yang ketat harus segera dilakukan.
  • Karena telah semakin luasnya daerah kekuasaan Islam disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi umat Islam, maka hal tersebut menuntut mereka untuk mendapat petunjuk dari hadis Nabi saw., selain petunjuk Alquran.Senada dengan beberapa faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas, di dalam Studi Ilmu Hadis oleh H. Ramli Abdul Wahid,menjelaskan bahwa selain faktor di atas, juga disebabkan adanya hadis mau«u’. Luasnya daerah Islam dan bertambahnya para mu’allaf yang membutuhkan bimbingan keagamaan,sehingga keadaan tersebut ikut mendorong penulisan hadis.Melihat berbagai persoalan muncul di atas, sebagai akibat terjadinya pergolakan politik, yang sudah cukup lama, dan mendesaknya kebutuhan untuk segera mengambil tindakan guna menyelamatkan hadis dari kemusnahan dan pemalsuan, maka ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz sebagai seorang Khalifah yang memiliki tanggung jawab besar terhadap masalah agama, terdorong untuk mengambil tindakan untuk mengkodifikasikan hadis secara resmi.
[Ranuwijaya, Ilmu Hadis, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996), h.68]












BAB III
PENUTUP
A .Kesimpulan
Yang dimaksud kodifikasi (tadwin) adalah mengumpulkan, menghimpun atau membukukan, yakni mengumpulkan dan menertibkannya. Adapun yang dimaksud dengan kodifikasi hadis adalah menghimpun catatan-catatan hadis Nabi dalam mushaf.
Antara kodifikasi (tadwin) hadis dan Jam’ul Qur’an memiliki perbedaan. Sebagaimana dikatakan M. Quraisy Syihab , pencatatan dan penghimpunan (tadwin) hadis Nabi tidak sama dengan pencatatan dan penghimpunan (tadwin) hadis Nabi tidak sama dengan pencatatan dan penghimpunan al-Qur’an (Jam’ul Qur’an) . Dalam tadwin hadis, tidak dibentuk tim, sedangkan dalam Jam’ul Qur’an dibentuk tim . Kegiatan penghipunan hadis dilakukan secara mandiri oleh masing-masing ulama ahli hadis. Sekiranya penghimpunan hadis itu harus dilakukan oleh sebuah tim, niscaya tim itu akan menjumpai banyak kesulitan, karena jumlah periwayat hadis sangat banyak dan tempat tinggal mereka tersebar di berbagai daerah Islam yang cukup berjauhan.
Ada beberapa hal yang mendorong ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz
mengambil inisiatif untuk memerintahkan para gubernur dan
pembantunya untuk mengumpulkan dan menulis hadis,
diantaranya adalah :
a. Tidak ada lagi kekhawatiran bercampurnya hadisdengan Alquran, karena Alquran ketika itu telah dibuktikan dan disebarluaskan.
b. Munculnya kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya hadis karena banyak para sahabat yang meninggal dunia akibat usia atau karena seringnya terjadi perperangan.
c. Semakin maraknya kegiatan pemalsuan hadis yang dilatar belakangi oleh perpecahan politik dan perbedaan mazhab di kalangan umat Islam. Hal ini upaya untuk menyelamatkan hadis dengan cara pembukuannya setelah melalui seleksi yang ketat harus segera dilakukan.
Karena telah semakin luasnya daerah kekuasaan Islam disertai dengan semakin banyak dan kompleksnya permasalahan yang dihadapi umat Islam, maka hal tersebut menuntut mereka untuk mendapat petunjuk dari hadis Nabi saw., selain petunjuk Alquran.Senada dengan beberapa faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas, di dalam Studi Ilmu Hadis oleh H. Ramli Abdul Wahid,menjelaskan bahwa selain faktor di atas, juga disebabkan adanya hadis mau«u’. Luasnya daerah Islam dan bertambahnya para mu’allaf yang membutuhkan bimbingan keagamaan,sehingga keadaan tersebut ikut mendorong penulisan hadis.Melihat









DAFTAR PUSTA
wijaya Ranu, Ilmu Hadis,Jakarta : Gaya Media Pratama,1996.
Mudasir,Ilmu Hadist,( Bandung : Pustaka Setia 1999) halman 106.
http://zaifbio. sejarah-pembukuan wordpress.com/2010/05/03/ -had
http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/penulisan-hadits.html
http://iwanbio02.blogspot.com/2009/05/kodifikasi-hadist.html
URL : http://erickyonanda.blogspot.com/2011/05/ulumul-qur-tentang-sejarah-turun-dan.html
Share this article :

0 Komentar:

 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. PERUBAHAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger