2010 - Erick Yonanda
Jangan Selalu Katakan "Masih Ada Waktu" Atau "Nanti Saja". Lakukan Segera, Gunakan Waktumu Dengan Bijak

Written By Erik Yonanda S.Pd.I on Rabu, 29 Desember 2010 | Rabu, Desember 29, 2010

PERANAN IPA DALAM KEHIDUPAN
I. Pendahuluan
Setiap rosul, atau utusan dari yang Maha Pencipta seluruh alam, membawa mukjizat, yaitu satu pemberian dari Allah S.W.T. untuk melakukan hal yang luar biasa yang tidak mengikuti rumus sebab akibat.
Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir telah dikaruniai oleh Allah SWT dengan mukjizat ‘aqli (ma’nawi) dengan tujuan untuk membuktikan dakwah beliau hingga akhir zaman. Mukjizat yang bersifat ‘aqli ini adalah mukjizat yang dapat dipahami manusia dengan akal yang sehat, bebas dari emosi dan prasangka serta dengan mata hati yang murni yang masih dapat menerima hidayah.
Mukjizat ‘aqli itu terkandung dalam ajaran al qur’an dan sunnah. Mukjizat ini lebih istimewa dari segala mukjizat nabi-nabi sebelumnya, dan dapat dinikmati dari zaman Rasulullah SAW sampai hari kiamat. Mukjizat seperti ini lebih terkenal sebagai mukjizat ilmu yang meliputi berbagai bidang kajian ilmu pengetahuan dari ilmu social hingga ilmu alam atau ilmu empiris. Mukjizat berbentuk ilmu ini sesuai dengan perubahan zaman yang mengagungkan kecerdasan akal serta sains dan tehnologi.
Allah SWT telah berfirman :
       •    
Artinya : Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar…….
Di segala wilayah itu artinya di segenap bidang ilmu pengetahuan, termasuk ilmu alam atau ilmu eksakta. Terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang selalu mendorong manusia supaya berfikir serta mengkaji dan memahami alam raya.

II. Pembahasan
Ilmu Pengetahuan Alam (natural sciences) dalam hal ini meliputi fisika (ilmu alam), kimia dan ilmu hayat (ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu hewan, ilmu pertanian, ilmu kedokteran dengan rantingnya seperti ilmu fa’al, ilmu bedah) ilmu cuaca dan lain-lain. Dalam hal ini kami akan membahas sedikit ilmu pengetahuan alam yang berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari.
a. Fisika
Adalah ilmu yang mempelajari tentang materi (zat) dan energy. Materi adalah segala sesuatu yang dapat kita lihat dan dapat kita sentuh. Sedangkan energy adalah kemampuan untuk melakukan usaha atau kerja.
Atau dengan kata lain fisika adalah ilmu yang mempelajari mengenai zat atau benda-benda mati yang kita dapati di sekitar kita.
Dalam al Qur’an, kita dapat menemukan fenomena-fenomena yang ada kaitannya dengan fisika diantaranya :
Allah berfirman dalam surat Al An’am ayat 125 :

                  •            
Artinya : Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya[503], niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Sesungguhnya ini adalah pemikiran sederhana terhadap rasa, “tidak enak” atau dadanya sesak lagi sempit yang dirasakan orang di tempat yang tinggi, dan yang akan bertambah-tambah jika orang itu berada dalam tempat yang lebih tinggi. Dilihat dari segi fisika dada yang sesak itu disebabkan oleh kurangnya oksigen untuk bernapas. Mengapa semakin tinggi tempat jumlah oksigen semakin berkurang.
Zat apa saja, termasuk udara dipengaruhi oleh gaya grafitasi bumi. Udara cenderung tertarik ke bawah menuju ke bumi. Itulah sebabnya, kerapatan udara di daerah yang dekat dengan permukaan bumi lebih besar dari pada kerapatan udara di atasnya. Dengan konsep tersebut dapat kita pahami bahwa tekanan udara lebih tinggi pada daerah yang kerapatan udaranya besar dari pada daerah yang kerapatan udaranya kecil (renggang). Semakin jauh dari permukaan bumi, tekanan udara semakin berkurang.
Konsep tekanan ini tidak hanya berlaku pada zat gas saja tetapi juga pada zat padat dan juga zat cair.
Konsep fisika yang berhubungan dengan tekanan zat cair dapat kita lihat dalam firman Allah dalam surat hud ayat 37, sebagai berikut :
          •  
Artinya : Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Apakah yang dikehendaki Allah dalam hal ini? Perhatikanlah bagaimana kapal laut dapat terapung di atas air? Atau bagaimana benda dapat tenggelam dalam air?
Untuk menjawab pertanyaan itu dalam fisika dikenal adanya prinsip atau hokum Archimedes. Dalam prinsip ini diterangkan apabila sebuah benda padat dicelupkan ke dalam suatu cairan, maka cairan itu akan mengerjakan gaya apung (gaya yang arahnya ke atas) pada benda padat itu.
Berapa besarnya gaya apung itu ? masih menurut Archimedes, besarnya gaya apung itu sama dengan gaya berat yang bekerja pada volume cairan yang didesaknya (atau yang dipindahkannya) maksudnya adalah sebagai berikut :
Misalnya anda akan berendam ke dalam bak yang terisi penuh oleh air. Kemudian jika anda masuk ke dalam bak itu, maka sebagian dari air itu akan tumpah.
Nah gaya berat dari air yang tumpah itu sama dengan gaya apung yang bekerja pada badan anda.
Nah fenomena terapung, melayang, dan tenggelam ada kaitannya dengan gaya apung ini. Sebuah benda akan terapung dalam suatu cairan, apabila gaya apung yang bekerja pada benda itu lebih besar dari pada gaya berat benda itu. Selanjutnya sebuah benda akan melayang dalam cairan apabila gaya apung yang bekerja pada benda itu sama dengan gaya berat benda tadi. Dan yang paling akhir sebuah benda akan tenggelam ke dalam suatu cairan apabila gaya apung yang bekerja pada benda tadi lebih kecil dari pada gaya berat benda.
b. Kimia
Ilmu kimia merupakan salah satu cabang IPA yang mempelajari tentang susunan, komposisi, struktur, sifat-sifat dan perubahan materi, serta perubahan energy yang menyertai perubahan materi tersebut.
Ilmu kimia juga sangat berhubungan dengan biologi. Proses biologi di alam dan di dalam tubuh manusia dapat dijelaskan melalui konsep-konsep kimia. Proses fotosintesis dalam tumbuhan, proses respirasi dan proses metabolisme dalam tubuh manusia sebenarnya merupakan reaksi-reaksi yang melibatkan zat-zat kimia.
Dalam ilmu kimia salah satunya dipelajari mengenai susunan atau struktur suatu materi.
Allah berfirman dalam surat az zalzalah ayat 7 :
      
Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.

Menurut Jabir Ibnu Hayyan Al Kufi (Geber)(738-813M) dari Kufah, terkenal sebagai bapak alkemi (ilmu kimia) Arab, mengemukakan bahwa dzarrah dalam ayat tersebut disamakan dengan atom, yang merupakan bagian terkecil dari suatu benda atau materi.
Mengenai kewujudan atom, al-Qur’an menyatakan, “Tiada luput daripada pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar dzarah (atom) di muka bumi ataupun di langit. Tidak pula yang lebih kecil dan tidak pula yang lebih besar daripada itu melainkan semuanya tercatat dala kitab yang nyata, Luh Mahfudz.
Di sini dinyatakan bahwa ada benda yang lebih kecil daripada atom. Menurut fisika, atom dibentuk dari bahan yang lebih kecil yaitu proton, electron dan neutron.
Konsep ini mendorong ahli kimia Barat John Dalton untuk mengadakan penelitian dan akhirnya dapat mengemukakan sebuah teori tentang atom yang dikenal dengan Teori Atom Dalton (1810M) yang mengatakan bahwa :
1. Benda terdiri dari butiran-butiran kecil yang tidak dapat dibelah lagi yang disebut atom
2. Atom tidak dapat dimusnahkan atau diwujudkan melalui proses kimia
3. Semua bentuk atom dari satu unsur adalah serupa tetapi berlainan dari atom unsur yang lain.
Dalam kimia ini juga dipelajari mengenai perubahan materi, salah satu diantaranya adalah perubahan wujud. Misalnya apabila air dipanaskan maka akan berbentuk uap air (gas) dan sebaliknya bila air didinginkan sampai 0 0c, maka air akan membeku. Pada fenomena lain, bila kayu dibakar, maka akan berubah menjadi arang atau gas karbon dioksida dan air. Fenomena air berubah menjadi uap air atau es dan kayu menjadi arang dan uap air disebut perubahan materi.
Sebagai mana firman Allah SWT : (surat An Nur : 43)
  •                             •        
Artinya: Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkan penglihatan.
Dari surat ini diketahui bahwa air yang ada dalam kehidupan kita dapat berada dalam tiga wujud yaitu wujud padat (es), wujud cair (air) dan berwujud gas yaitu berupa uap air (awan).
Atau dalam ayat yang lain : (surat yasin :80)
           
Artinya : Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, Maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu".
Ayat ini merujuk kepada bahan-bahan api yang berasal daripada pohon-pohon kayu yang hijau, yang menjadi sumber bahan api hidrokarbon, sama ada dalam bentuk kayu kering atau arang batu atau gas petroleum hasil dari pada pohon-pohon kayu yang tertanam, dihimpit dalam bumi hingga menjadi sumber api dan kuasa yang utama di zaman modern ini.

c. Biologi
Menurut bahasa, biologi berasal dari bahasa yunani bio yang artinya hidup dan logos yang artinya ilmu. Atau dapat disebutkan bahwa biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup.
Dalam pengertian lain sains biologi adalah salah satu bidang ilmu tentang fenomena-fenomena, dan sangkut paut lembut atau kecil seperti virus atau bakteri sampai pada homo sapiens (manusia) yang telah diciptakan dengan bentuk dan strutur yang paling rumit.
Termasuk dalam hal ini adalah bidang botani (ilmu yang mengkaji mengenai tumbuhan) dan zoology (ilmu yang mengkaji mengenai hewan)
Perkara yang dikatakan alamiah atau alam semesta itu dianggap oleh orang islam sebagai ayat Allah dan mereka digalakkan mengkajinya seperti yang dinyatakan di beberapa tempat dalam al Qur’an karena melalui kajian-kajian alam semesta atau dunia, manusia itu mengetahui bagaimana indah dan menakjubkan ciptaan Allah SWT. Alam tabi’I di muka bumi ini menjadi satu kunci untuk beriman kepada adanya Pencipta yang Maha Esa. Jika sekiranya ciptaan-Nya begitu menakjubkan, lagi Pencipta (al-khaliq)itu sendiri.
Dalam bidang biologi kita dapat mengkaji dan memahami kebijaksanaan Allah SWT dalam alam semesta dan seterusnya menimbulkan kesadaran bahwa kita adalah hamba Allah. Mungkin dengan pertanyaan-pertanyaan seperti :
1. Siapakah yang membuat biji benih itu berkecambah dan tumbuh dari bumi ?
2. Siapakah yang menyebabkan turunnya hujan ?
Semua memerlukan jawaban yang dapat ditemukan melalui kajian dan penelitian yang teliti dibuat terhadap alam tabi’i.
Dalam al Qur’an terdapat beberapa ayat yang berkaitan dengan biologi, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut , diantaranya sebagai berikut :
Firman Allah SWT, dalam surat Al An’am ayat 99 :
                   •     •   • •            •      
Artinta : Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.
Dan dalam surat Ar Ra’d ayat 4, Allah juga berfirman :
    •                  •      
Artinya : Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

Melihat ayat tersebut, coba kita pikirkan keberadaan satu pohon rambutan. Tiap-tiap pohon buahnya berlainan menurut jenis, ada yang manis dan ada yang tidak manis. Ada yang berkulit merah, ada yang berkulit kuning dan sebagainya. Semua jenis buah rambutan memperoleh air yang sama dan tumbuh di atas tanah yang sama. Perbedaan jenis terkandung di dalam inti sel biji-biji rambutan tersebut. Penelitian atas inti sel itu lebih menakjubkan para ilmuwan.
Dari beberapa ayat-ayat tersebut di atas kita akan tahu bahwa dalam alam semesta terdapat unsur-unsur yang :
1. Teratur, mengikuti peraturan tertentu
2. Sempurna, sesuai dengan maksud ciptaannya
3. Harmonis, saling bantu membantu antara satu dengan yang lain, bahkan ada yang berhubungan erat antara satu dengan yang lain dalam sesuatu alam sekitar atau ekologi. Misalnya, jika kita menebang hutan tanpa aturan, maka akan terjadi banjir, atau jika pupuk kimia digunakan tanpa aturan, tanah menjadi gersang dan keras. Selain itu di alam pun terdapat siklus tertentu seperti siklus air, siklus oksigen, siklus kehidupan yang mana siklus ini merupakan proses terus menerus yang menakjubkan, tepat dan jitu, serta seolah-olah akan berlangsung selama-lamanya.
III. Kesimpulan
1. Sumber daya penggerak umat islam adalah al Qur’an dan al Sunnah, terdapat banyak ayat yang menyuruh umat islam mencari ilmu.
2. Yang menjadi satu kebenaran bagi al Qur’an ialah ayat yang mendesak manusia untuk memperhatikan alam sekitarnya.
3. Al Qur’an menegaskan umat islam untuk membuat penelitian dan kajian serta menggalakkan sifat sabar menghadapi berbagai percobaan dan dugaan. Inilah salah satu ciri sains yang penting terutama dalam menjalani pengujian atau membuat perhatian dan penelitian.

IV. Daftar Pustaka
1. Tim penulis fisika, Fisika madrasah Tsanawiyah / Sederajat kelas VII, Kurikulum 2004, Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah, Tahun 2004.
2. Tim Penyusun Kimia, Kimia Madrasah Tsanawiyah Kelas VII, Kurikulum 2004 Berbasis Kompetensi, Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah, Thun 2004.
3. Prof. S.I. Poeradisastra, Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradapan Modern, P3M, Jakarta 2006.
4. DR. Maurice Bucaille, Bibel, Qur’an dan Sains Modern, Bulan Bintang, Jakarta 1978.
5. Departemen Pendidikan Nasional, Ensiklopedi Sains dan Kehidupan, Pusat Perbukuan, Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Perbukuan Dasar dan Menengah, Tahun Anggaran 2003.
6. Sulaiman Nurdin, Sains Menurut Perspektif Islam, Dewan Bahasa dan Pustaka kuala lumpur, Dwi Rama, Tahun 2000.
7. Al Qur’an dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia, tahun 2009
Read More.. temscope='' itemtype='http://data-vocabulary.org/Review'> Description:
Rating: 4.5
Reviewer: Erik Yonanda S.Pd.I
ItemReviewed:

CORD GITAR THE TITANS

 RASA INI THE TAITAN

  C                   F
Terlalu lama kau jauh

       Am                    G
Hingga waktu pasti kan berlalu

C                        F
Kini kau pergi tinggalkanku

    Am                G
Disaat aku terbenam sepi


C             F
Kau telah pergi

            Am           G          C
Tinggalkan aku dalam perih mimpi-mimpi

                 F
Yang tak mungkin kembali

         Am        G
Saat kau dan aku saling memiliki


C     G          Am
Rasa ini tak mungkin

     G           
Bisa kuungkap...

  C      G         Am
Lagi berakhir rasa yang kumiliki

  G
Satu cinta aku


Musik : Dm Am C G

F C Am G

Back to [*]


C G Am G 2x


Back to Reff

Read More.. temscope='' itemtype='http://data-vocabulary.org/Review'> Description: CORD GITAR THE TITANS
Rating: 4.5
Reviewer: Erik Yonanda S.Pd.I
ItemReviewed: CORD GITAR THE TITANS

MAKALAH METODOLOGI STUDI ISLAM KARATERISTIK AJARAN ISLAM DIBIDANG KESEHATAN

Written By Erik Yonanda S.Pd.I on Selasa, 28 Desember 2010 | Selasa, Desember 28, 2010

MAKALAH
METODOLOGI STUDI ISLAM
KARATERISTIK AJARAN ISLAM DIBIDANG KESEHATAN









Disusun oleh :
1. Erik Yonanda
2. Gito Romi

Dosen pembimbing :
Dra. Fauzia Amir



YAYASAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM SUMATRA BARAT (UISB)
SOLOK NAN INDAH
(YP3 UISB SNI)
2010 / 2011


KATA PENGANTAR


Dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu terutama kepada Ibuk pembimbing dalam pembuatan makalah ini.
Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, tim penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya tim penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.


















DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN 1
1. Dasar-dasar Bimbingan Konseling 1
1.1. Pengertian Bimbingan 1
1.1.1 Analisi (Pengertian Bimbingan) 2
1.1.2Kesimpulan Bimbingan 3
1.2Pengertian Konseling 4
1.2.1Analisis (Pengertian Konseling) 4
1.2.2Kesimpulan Konseling 5
BAB II PEMBAHASAN 6
2.UU No. 14 / 2005 Guru dan Dosen Dokumen Transcrip 6
3.Dasar-dasar Kependidikan & Sistem Pendidikan Nasional 30
A. Pengertian 30
B. Pendidikan Nasional Sebagia Suatu Sistem 30
C. Dasar, Tujuan dan Fungsi Pendidikan Nasional 31
D. Pendidikan Nasional berdasarkan Jenjang, Jalur dan Jenis Pendidikan 31
E. Kurikulum Program Pendidikan Nasional 33
F. Pengelolaan Sistem Pendidikan Nasional 34
BAB III PENUTUP 35
A. Kesimpulan 35

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Al-Qur'an adalah kitab terakhir yang Allah turunkan bagi semua manusia. Setiap orang yang hidup di bumi wajib mempelajari Al-Qur'an dan melaksanakan perintah-perintahnya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mempelajari ataupun melaksanakan apa yang Allah perintahkan dalam Al-Qur'an kendatipun mereka menerimanya sebagai sebuah kitab yang diwahyukan. Ini adalah akibat dari belum memikirkan tentang Al-Qur'an tetapi sekedar mengetahui dari informasi yang didapat dari sana sini. Sebaliknya, bagi orang yang berpikir, Al-Qur'an memiliki kedudukan dan peranan yang sangat besar dalam kehidupannya.

Di antara ukuran yang perlu kita rujuk kembali dalam menjelaskan apa yang paling benar untuk kita perhatikan dan dahulukan ialah perhatian terhadap isu-isu yang diperhatikan oleh al-Qur'an. Kita selayaknya mengetahui apa yang sangat dipedulikan oleh al-Qur'an dan sering diulang-ulang di dalam surat dan ayat-ayatnya, dan apa pula yang ditegaskan dalam perintah dan larangannya, janji dan ancamannya. Itulah yang harus diprioritaskan, didahulukan, dan diberi perhatian oleh pemikiran, tingkah laku, penilaian, dan penghargaan kita. Yaitu seperti keimanan kepada Allah SWT, kepada para nabi-Nya, hari akhirat, pahala dan siksaan, surga dan neraka.
Contoh lainnya yaitu pokok-pokok ibadah dan syiar-syiarnya, mendirikan shalat dan membayar zakat, puasa, haji, zikir kepada Allah, bertasbih, tahmid, istighfar, tobat, tawakkal kepada-Nya, mengharapkan rahmat dan takut terhadap azab-Nya, syukur kepada nikmat-nikmat-Nya, bersabar terhadap cobaan-Nya, dan ibadah-ibadah batiniah, serta maqam-maqam ketuhanan yang tinggi.
Dan juga pokok-pokok keutamaan, akhlak yang mulia, sifat-sifat yang baik, kejujuran, kebenaran, kesederhanaan, ketulusan, kelembutan, rasa malu, rendah hati, pemurah, rendah hati terhadap orang-orang yang beriman dan berbesar hati menghadapi orang kafir, mengasihi orang yang lemah, berbuat baik terhadap kedua orangtua, silaturahim, menghormati tetangga, memelihara orang miskin, anak yatim dan orang yang sedang dalam perjalanan.
Kita juga perlu mengetahui isu-isu yang tidak begitu diberi perhatian oleh Islam kecuali sangat sedikit, misalnya masalah Isra' Nabi saw. Al-Qur'an hanya membicarakannya dalam satu ayat saja, berbeda dengan peperangan yang dibicarakan oleh al-Qur'an di dalam satu surat penuh.
Itulah sebenarnya ukuran yang benar, karena sesungguhnya al-Qur'an merupakan tiang agama, landasan dan sumber Islam; dengan sunnah Nabi saw yang berfungsi sebagai pemberi penjelasan dan keterangannya.
Allah SWT berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًاكَبِيرًا.
Artinya: "Sesungguhnya al-Qu'ran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal salih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar." (al-Isra,:9)

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya: "... Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri." (an-Nahl: 89)


Pemahamannya yaitu, Sesungguhnya al-Qur'an memberikan penjelasan mengenai pokok ajaran agama yang kokoh. Tidak ada satu pokok ajaran agama yang sifatnya sangat umum dan diperlukan oleh kehidupan Islam kecuali pokok ajaran ini telah ditanamkan kuat oleh al-Qur'an, baik secara langsung maupun tidak. Khalifah kita yang pertama pernah berkata, "Kalau aku kehilangan 'kendali unta' maka aku dapat menemukannya di dalam kitab Allah."








BAB II
PEMBAHASAN
TUJUAN DAN FUNGSI GERAKAN SHALAT
Mungkin anda menganggap fungsi shalat hanya untuk beribadah terhadap Allah SWT saja,dan hanya untuk menunaikan kewajiban sebagai orang yang beragama islam.

Shalat ternyata tidak hanya menjadi amalan utama di akhirat nanti, tetapi gerakan-gerakan shalat paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Bahkan dari sudut medis, shalat adalah gudang obat dari berbagai jenis penyakit.


Allah, Sang Maha Pencipta, tahu persis apa yang sangat dibutuhkan oleh ciptaanNya, khususnya manusia. Semua perintahNya tidak hanya bernilai ketakwaan, tetapi juga mempunyai manfaat besar bagi tubuh manusia itu sendiri. Misalnya, puasa, perintah Allah di rukun Islam ketiga ini sangat diakui manfaatnya oleh para medis dan ilmuwan dunia barat. Mereka pun serta merta ikut berpuasa untuk kesehatan diri dan pasien mereka.

Begitu pula dengan shalat. Ibadah shalat merupakan ibadah yang paling tepat untuk metabolisme dan tekstur tubuh manusia. Gerakan-gerakan di dalam shalat pun mempunyai manfaat masing-masing.


Pengertian Shalat


Shalat secara etimologi berarti memohon (do’a) dengan baik, yaitu memohon keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian hidup didunia dan akhirat kepada Allah Swt. permohonan dalam shalat tidak sama dengan permohonan di luar shalat, sebab di dalam shalat telah diatur dengan tata cara yang baku, tidak boleh dikurangi ataupun ditambah. Sedangkan menurut istilah shalat adalah perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seorang yang melaksanakan shalat seharusnya dapat melaksanakannya dengan baik, konsaisten, tertib dan khusyu’. Sehingga ia mendapatkan hikmah dari apa yang dikerjakan, pengertian ini didasarkan pada asumsi bahwa orng yang tekun melaksanakan shalat memilki kepribadian yang lebih shhaleh dan sehat, ketimbang orang yang tidak mengerjakan shalat.

Tujuan sholat adalah pengakuan hati bahwa Allah SWT sebagai pencipta adalah Maha Agung, dan pernyataan patuh terhadap-Nya serta tunduk atas kebesaran dan kemuliaan-Nya, yang kekal dan abadi. Karena itu bagi orang yang melaksanakan sholat dengan khusuk dan ikhlas, maka hubungannya dengan Allah SWT akan kokoh, kuat, dan istiqamah dalam beribadah, dan menjalankan ketentuan yang digariskan-Nya.

Kewajiban melakukan shalat lima kali sehari juga dapat diapandang sebagai bentuk praktis dari olah raga. Keseluruhan gerakan dalam shalat bersifat tenang, berulang-ulang dan melibatkan senua otot dan persendian, sehingga dapat menjaga keseimbangan energi hal ini disebabkan oleh pembakaran kalori dengan teratur.


Adapun manfaat – manfaat gerakan pada saat kita shalat, yaitu :



Takbiratul ikhrom: Berdiri tegak lurus


Berdiri berdiri tegak, mengangkat kedua tangan sejajar telinga, lalu melipatnya di depan perut atau dada bagian bawah. Gerakan ini melancarkan aliran darah, getah bening dan kekuatan otot lengan Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh. Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas.


Ketika mulai berdiri tubuh terasa ringan karena berat tubuh tertumpu pada dua kaki. Otot-otot punggung sebelah atas dan bawah dalam keadaan kendur. Punggung dalam keadaan lurus, dengan pandangan terpusat pada tempat sujud. Pikiran berada dalam keadaan terkendali. Pusat otak, atas dan bawah menyatu membentuk kesatuan tujuan. Hal ini juga merupakan cerminan diri dan hati di hadapan Allah. Walau dalam kondisi berdiri tegak namun kepala ditundukkan ke tempat sujud, hal ini mengisyaratkan bahwa kita diwajibkan untuk bertawadhu’ (rendah hati) dan menghindari kesombongan, ini juga merupakan suasan yang sangat dahsyat dimana kita berdiri dihadapan Allah seperti suasana saat nanti manusia di hadapan Allah pada hari pengadilan (yaum al-dîn). Saat kita berhadapan dengan Allah Yang Maha Mengetahui diri kita, dan kita berhadapan dengan dzat yang sangat kita cintai, maka saat itu pula pikiran kita akan menjadi tenang, anggota badan tertunduk dan semua eksistensi diri kita menjadi tenteram.

Ruku’

Ruku’ adalah membengkokan tulang belakang, dan meluruskannya meregangkan antara tulang dan otot punggung, ruku’ yang sempurna adalah ditandai tulang belakang yang luruh sehingga bila diletakkan segelas air diatas punggung tersebut tidak akan tumpah. Posisi kepala lurus dengan tulang belakang. Meletakkan tangan pada lutut seraya meluruskan tulang belakang dan menahannya akan mempelancar perdarahan dan gerah bening. Karena itu, makanan bagi tulang belakang beserta ligament dan otot pendukungnya akan terjamin. Lebih jauh Aliah BP. Hasan dalam bukunya Pengantar Psikologi Kesehatan Islami mengatakan bahwa ruku’ merupakan salah satu metode untuk menguatkan otot-otot pada persendian kaki yang dapat meringankan tegangan pada lutut , ketika ruku’ seseorang meregangkan otot punggung sebelah bawah, otot paha, dan otot betis secara penuh. Tekanan akan terjadi pada otot lambung, perut dan ginjal, sehingga darah akan terpompa ke atas tubuh. Dan ketika melakukanqauna atau berdiri setelah ruku’,

Secara spiritual ruku’ dapat membentuk seseorang dalam kehidupannya tidak sombong, memulai merendahkan dan menundukkan diri, dan senantiasa berusaha dalam memperhalus hati dan memperbaharui kekhusyu’an shalat, merasakan bahwa dirinya hina dan merasakan pula kemuliaan Allah, kemudian ia memuji dan mengakui keagungan Allah. hal ini tercermin dalam ucapan dalam ruku’ “Subhâna Rabbî al-‘adhîmi wa bihamdihi” ( Maha suci Tuhanku Yang Maha Agung dan dengan segala puji bagi-Nya ).


I'tidal

Bangun dari rukuk, tubuh kembali tegak setelah, mengangkat kedua tangan setinggi telinga. i'tidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud. Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik. Organ-organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar. postur tubuh kembali tegak, sehingga memberikan tekanan pada aliran darah untuk bergerak keatas. Hal ini dapat membuat tubuh mengalami relaksasi dan melepaskan ketegangan, hal serupa juga terjadi ketika berdiri setelah sujud.



Sujud

Menungging dengan meletakkan kedua tangan, lutut, ujung kaki, dan dahi pada lantai.sujud bermanfaat memompa aliran getah bening ke bagian leher dan ketiak. Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisa mengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang. Karena itu, lakukan sujud dengan tuma'ninah, jangan tergesa gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir. Khusus bagi wanita, baik rukuk maupun sujud memiliki manfaat luar biasa bagi kesuburan dan kesehatan organ kewanitaan.

Gerakan dalam sujud juga mempunyai metode yang dapat membawa kedamaian, keselarasan, kesesuaian, ketenangan dan kebahagiaan. Dalam sujud badan dari belakang rata ke depan, kedua telapak tangan ditempelkan pada lantai/tanah, dan kaki ditekuk. Sujud adalah pijatan usus yang sudah dimulai sejak ruku’. Dilakukan dengan meluruskan tulang belakang dan meregang otot hingga rongga perut mengecil. Otot yang bertambah kuat akan mencegah berbagai penyakit seperti heria dan membantu persalinan, sedangkan usus yang dipijat akan melancarkan peristalsis dan memudahkan buang air besar; aliran darah bebas hambatan akan mencegah ambeien. Muka yang menempel pada lantai Rasulullah Saw. Pernah bersabda, “jangan kau usap kerikil yang menempel di muka (wajah) mu itu akan menjadi mutiar kelak di surga”. Jika ditinjau dari kesehatan bahwa wajah / muka yang terkena kerikil dalam keadaan sujud adalah merupakan pijatan refleksi yang berfungsi melancarkan peredaran darah dan mengendorkan syaraf-syaraf yang ada di muka, sehingga jika syaraf-syaraf muka kendur dan peredaran darahnya lancar niscaya terhindar dari penyakit kepala, seperti pusing-pusing, migrant, dll.

Dengan melakukan gerakan sujud secara rutin, pembuluh darah di otak terlatih untuk menerima banyak pasokan oksigen. Pada saat sujud, posisi jantung berada di atas kepala yang memungkinkan darah mengalir maksimal ke otak. Itu artinya, otak mendapatkan pasokan darah kaya oksigen yang memacu kerja sel-selnya. Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan.

Sujud jika ditinjau dari perspektif spiritual bahwa sujud menggambarkan tentang derajat ketundukan yang paling tinggi, karena anggota badan yang paling berharga, yaitu wajah di tempelkan pada sesuatu yang paling rendah, yaitu tanah. Jika memungkinkan, sujudlah langsung ke tanah tanpa alas, karena ini bisa membuat lebih khusyu’ dalam shalat dan dalam berdo’a, dan bukti yang paling baik atas kerendahan. Sujud juga merupakan posisi terbaik berdialog dengan Allah, dan juga posisi terbaik untuk bertemu dengan Allah (misalnya kematian) adalah ketika sujud. Cara terbaik untuk berterima kasih kepada Allah dan memuji-Nya juga ketika sujud. Melalui proses sujud, seseorang akan terserap ke dalam ketakterbatasan, dengan keabadian dan dengan dunia luar. Ketika seseorang mencapai keadaan kesatuan penuh dengan Allah Yang Maha Kuasa, seluruh tubuh bergetar dan menangis, dan doanya sampai kepada Allah ( Aliah BP. Hasan 2005)


Duduk Tasyahud


Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy (tahiyyat awal) dan tawarruk (tahiyyat akhir). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki. Manfaatnya,saat iftirosy, bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf.
Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan. Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra), kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens. Jika dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi. Variasi posisi telapak kaki pada iffirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali. Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga. kelenturan dan kekuatan organ-organ. “Nabi duduk dengan tuma’ninah sehingga ruas tulang belakangnya mapan” . Duduk dalam tasyahud dengan menekukan jari – jari yang berada pada kaki yang kanan, ini berfungsi untuk me-refleksi (berfungsi pijat refleksi) syaraf-yaraf kaki dan memperlancar peredaran darah hingga ke syaraf kepala, posisi duduk tasyahud juga dapat membantu pencernaan dengan menggerakkan isi perut ke arah bawah. Tubuh akan mengalami relaksasi, dan merangsang otot-otot pangkal paha, sehingga dapat mengurangi rasa nyeri dan sakit pada pangkal paha.

Salam

Gerakan memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal. Manfaatnya untuk relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala. Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.






Thuma’ninah

Sudah seharusnya shalat kita dilaksanakan dengan thuma’ninah yaitu dengan tenang, rileks, dan santai setelah melakukan aktivitas dalam mengarungi semua dimensi kehidupan. Hamper semua rukun-rukun shalat untuk melakukan thuma’ninah. Thuma’ninah merupakan bentuk relaksasi dalam shalat, dimana seseorang berdiam sejenak untuk merasakan istirahat atau bersantai-santai setelah mengalami kontraksi atau peregangan otot dan syaraf. Melalui thuma’ninah diharapkan seseorang mengalami kedamaian dan ketenangan, sehingga dapat mengurangi rasa kecemasan, dll.








Ajaran islam dalam hal ini berpedoman pada prinsip pencegahan lebih diutamakan daripada penyembuhan. Dalam bahasa Arab berbunyi : al-waqiyah khir min al-‘ilaj. Berkenaan dengan konteks kesehatan ini ditemukan sekian banyak petunjuk kitab suci dan Sunnah Nabi Saw. Yang pada dasarnya mengarah pada upaya pencegahan.
Untuk menuju pada usaha pencegahan tersebut, islam menekankan segi kebersihan lahir dan batin. Kebersihan lahir dapat mengambil bentuk kebersihan tempat tinggal ,lingkungan sekitar, dan sebagainya, pernyataan ini juga sudah terdapat dalam firman Allah Swt :


إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ.
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS. Al-baqarah: 222)



Sebagaimana dalam pernyataan firman Allah tersebut bahwa; Bertaubat akan menghasilkan kesehatan mental, sedangkan kebersihan lahiriyah menghasilkan kesehatan fisik. Dalam firman Allah juga menyatakan :


وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ.
Artinya: “dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah”, (QS. Al-mudatsir: 4-5)

Anjuran dan perintah tersebut berdampingan dengan perintah menyampaikan ajaran agama dan membesarkan nama Allah Swt.



















Kesimpulan

Ketenangan, ketenteraman dan kesehatan orang yang diperoleh melalui shalat memiliki nilai spiritual yang cukup tinggi, dan gerakan yang sangat banyak.
Hal ini disebabkan oleh karena dalam shalat terdapat dimensi dzikrullah dan juga dimensi gerak / olah raga, karena gerakan dalam shalat dilakukan dengan continue/istiqamah. Dimensi ini merupakan inti yang menyebabkan orang yang melaksanakan shalat senantiasa mengingat Allah sehingga hatinya menjadi tenang, dan gerakan dalam shalat merupakan olah raga yang dapat memberikan kekebalan pada tubuh, dan juga merupakan terapi dari beberapa penyakit yang ada pada tubuh kita.

Hal ini dapat kita ibaratkan jika seseorang melakukan shalat sehari semalam 17 rakaat, dengan asumsi bahwa setiap rakaat shalat ia akan melakukan + 7 gerakan dan ditambah 2 gerakan salam, maka sehari semalam orang yang melasanakan sahalat dia akan menggerakan anggota tubuh sebanyak 7 X 17 = 119, dan 10 gerakan salam, maka total menjadi = 129 gerakan, hal ini 1 hari, dan hanya jika ia melaksanakan shalat fardlu,. jika seseorang melaksanakan shalat fardlu dalam satu bulan berarti ia telah melakukan : 125 X 30 = 3.870 gerakan.























DAFTAR PUSTAKA

Nata, Abuddin.H. 2009. “Metodologi Studi Islam”. Jakarta: Rajawali Pers.
http://tetembak.blogspot.com/2010/02/Metodologi “Studi Islam” .html, diakses pada 26 Mei 2010


B.P Hasan, Aliah, 2005 Pengantar Psikologi Islami, Proses Cetak


Sa’id Hawwa, 2004, Intisari Ahya ‘ulumuddin Al-Ghazali, Mensucikan Jiwa, Rabbani Press, Jakarta


An-Najar, Amir, 2004, Psikoterapi Sufistik, dalam Kehidupan Modern, Hikmah, Jakarta


Mujib, Abdul, 2006, Kepribadian dalam Psikologi Islam.
Read More.. temscope='' itemtype='http://data-vocabulary.org/Review'> Description: MAKALAH METODOLOGI STUDI ISLAM KARATERISTIK AJARAN ISLAM DIBIDANG KESEHATAN
Rating: 4.5
Reviewer: Erik Yonanda S.Pd.I
ItemReviewed: MAKALAH METODOLOGI STUDI ISLAM KARATERISTIK AJARAN ISLAM DIBIDANG KESEHATAN

JANGAN DUTAI AKU YA

Written By Erik Yonanda S.Pd.I on Senin, 20 Desember 2010 | Senin, Desember 20, 2010

JANGAN DUTAI AKU YA

JANGAN DUTAI AKU
KARNA

KALAU KAMU DUTAI
AKU TAK TAU KEMANA KU MENGADU
DALAM HATI KU INI
HANYA ADA SATU ORANG
YAITU KAMU

MUNGKIN KAMU MERASA BOSAN
JANGAN DI SIMPAN
MUNGKIN PERNAH MERASA 
HATIMU TERLUKAI
JANGAN DISIMPAN YA ,,,

UNTUK KAMU KETAHUI
BAHWASANYA AKU MENCINTAI MU
DALAM HATI INI HANYA ADA KAMU
TAKKAN BERPALING

JANGAN DUTAI AKU YA ,,,,???
BY : ERICK YONANDA
Read More.. temscope='' itemtype='http://data-vocabulary.org/Review'> Description: JANGAN DUTAI AKU YA
Rating: 4.5
Reviewer: Erik Yonanda S.Pd.I
ItemReviewed: JANGAN DUTAI AKU YA

SMK N 1 KOTA SOLOK SANGGAR

Written By Erik Yonanda S.Pd.I on Sabtu, 04 Desember 2010 | Sabtu, Desember 04, 2010





Read More.. temscope='' itemtype='http://data-vocabulary.org/Review'> Description: SMK N 1 KOTA SOLOK SANGGAR
Rating: 4.5
Reviewer: Erik Yonanda S.Pd.I
ItemReviewed: SMK N 1 KOTA SOLOK SANGGAR

SMK N 1 KOTA SOLOK SANGGAR





Read More.. temscope='' itemtype='http://data-vocabulary.org/Review'> Description: SMK N 1 KOTA SOLOK SANGGAR
Rating: 4.5
Reviewer: Erik Yonanda S.Pd.I
ItemReviewed: SMK N 1 KOTA SOLOK SANGGAR

USHUL FIQH IJMA’ PENGERTIAN,DASAR HUKUM DAN MACAM-MACAMNYA

Written By Erik Yonanda S.Pd.I on Rabu, 03 November 2010 | Rabu, November 03, 2010

ERICK YONANDA

USHUL FIQH
IJMA’
PENGERTIAN,DASAR HUKUM DAN MACAM-MACAMNYA


Disusun oleh :
1. Ilham wahyudi
2. Darma meliyani
Dosen pembimbing :
Rasyidin imran S.Ag
YAYASAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN UNIVERSITAS SUMATRA BARAT (UISB)
SOLOK NAN INDAH
(YP3 UISB SNI)
2010 / 2011


KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini,
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, tim penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya tim penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca





BAB I
PENDAHULUAN



1.Latar Belakang

Kita telah mengetahui bersama bahwa sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah Al-Qur’an dan Hadits. Yang mana telah kita ketahui bersama didalam keduanya terdapat hukum-hukum yang relevan dalam kehidupan kita bermasyarakat, beragama dan menjalani kehidupan kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Sejarah yang terkandung dalam keduanya memberi kita contoh dalam bermasyarakat untuk meneladaninya, dalam segi beragama kita dituntut untuk bisa mengungkap isinya agar ibadah kita didunia ini tidak sia-sia dan hanya berupa formalitas semata. Sedangkan dalam mengerjakan tugas hidup kita sebagi khalifah, al-quran dan sunnah punya ilmu yang sangat melimpah dari ilustrasi dasar lampu, dan banyak lagi.
Semua muslimin sepakat bahwa sumber hukum pertama yang tertinggi adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, yang disebut Al-Quran. Sumber hukum peringkat selanjutnya adalah kejelasan yang tersurat maupun yang tersirat dari kehidupan Rasul Allah; disebut as-Sunnah.
Kedua dasar dan sumber hukum ini saling kait dan terikat. Apa yang ada di dalam Al-Quran adalah sumber awal yang melegitimasi segala hukum sesudahnya. Darinya tersurat dan tersirat rangkaian hukum atas sandaran hukum yang lain. Sementara landasan selain Al-Quran adalah semua yang sudah mencukupi ruang batas ketentuan yang dibenarkan Al-Quran, sehingga tidak ada ketentuan yang berada di luar ketentuan yang sudah ditetapkan Allah. Dengan landasan ini, muslimin sependapat bahwa barang siapa yang menentang dan mengubah ketentuan Allah dan Rasul-Nya, maka dinyatakan sebagai kufur.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah bahwa dengan cara memandang pada fenomena sejarah yang berbeda akan didapatkan nilai keislaman yang berbeda pula. Sehingga i'tiqad dasar keislaman pun akan berbeda. Sementara itu, semua muslim sepakat bahwa Islam adalah agama Ilahi yang satu dan merupakan hamparan jalan tunggal menuju kepada Allah. Karena itu, muslimin, mau tak mau, harus memilih juga, yang konsekuensinya adalah i'tiqad dasar dari pandangan di atas harus ditimbang kembali untuk mendapatkan nilai yang benar, sehingga seseorang dapat memastikan keberadaan setiap personal di jalan yang lurus dan tunggal tersebut.

Namun seiring berjalannya waktu, permasalahan-permasalahan yang ditemui umat islam pun kian berkembang. Ketika permasalahan-permasalahan tersebut tidak dapat lagi diselesaikan hanya melalui nash Al-Qur’an dan Hadist secara eksplisit, timbul istilah ijtihad.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Ijma'
Ijma' menurut bahasa Arab berarti kesepakatan atau sependapat tentang sesuatu hal, seperti
perkataan seseorang ( ) yang berati "kaum itu telah sepakat (sependapat)
tentang yang demikian itu."
Menurut istilah ijma', ialah kesepakatan mujtahid ummat Islam tentang hukum syara' dari peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia. Sebagai contoh ialah setelah Rasulullah SAW meninggal dunia diperlukan pengangkatan seorang pengganti beliau yang dinamakan khalifah. Maka kaum muslimin yang ada pada waktu itu sepakat untuk mengangkat seorang khalifah dan atas kesepakatan bersama pula diangkatlah Abu Bakar RA sebagai khalifah pertama. Sekalipun pada permulaannya ada yang kurang menyetujui pengangkatan Abu Bakar RA itu, namun kemudian semua kaum muslimin menyetujuinya. Kesepakatan yang seperti ini dapat dikatakan ijma'.
2. Dasar hukum ijma'
Dasar hukum ijma' berupa aI-Qur'an, al-Hadits dan akal pikiran.
2.1 Al-Qur'an
Allah SWT berfirman:

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu." (an-Nisâ': 59)
Perkataan amri yang terdapat pada ayat di atas berarti hal, keadaan atau urusan yang bersifat umum meliputi urusan dunia dan urusan agama. Ulil amri dalam urusan dunia ialah raja, kepala negara, pemimpin atau penguasa, sedang ulil amri dalam urusan agama ialah para mujtahid.
Dari ayat di atas dipahami bahwa jika para ulil amri itu telah sepakat tentang sesuatu ketentuan atau hukum dari suatu peristiwa, maka kesepakatan itu hendaklah dilaksanakan dan dipatuhi oleh kaum muslimin.
Firman AIlah SWT:

Artinya:
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai." (Ali Imran: 103)
Ayat ini memerintahkan kaum muslimin bersatu padu, jangan sekali-kali bercerai-berai. Termasuk dalam pengertian bersatu itu ialah berijma' (bersepakat) dan dilarang bercerai-berai, yaitu dengan menyalahi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh para mujtahid.
Firman Allah SWT:

Artinya: "Dan barangsiapa yang menantang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (an-Nisâ': 115)
Pada ayat di atas terdapat perkataan sabîlil mu'minîna yang berarti jalan orang-orang yang beriman. Jalan yang disepakati orang-orang beriman dapat diartikan dengan ijma', sehingga maksud ayat ialah: "barangsiapa yang tidak mengikuti ijma' para mujtahidin, mereka akan sesat dan dimasukkan ke dalam neraka."

2.2 AI-Hadits
Bila para mujtahid telah melakukan ijma' tentang hukum syara' dari suatu peristiwa atau kejadian, maka ijma' itu hendaklah diikuti, karena mereka tidak mungkin melakukan kesepakatan untuk melakukan kesalahan apalagi kemaksiatan dan dusta, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Artinya: "umatku tidak akan bersepakat untuk melakukan kesalahan." (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

2.3 Akal pikiran
Setiap ijma' yang dilakukan atas hukum syara', hendaklah dilakukan dan dibina atas asas-asas pokok ajaran Islam. Karena itu setiap mujtahid dalam berijtihad hendaklah mengetahui dasar-dasar pokok ajaran Islam, batas-batas yang telah ditetapkan dalam berijtihad serta hukum-hukum yang telah ditetapkan. Bila ia berijtihad dan dalam berijtihad itu ia menggunakan nash, maka ijtihadnya tidak boleh melampaui batas maksimum dari yang mungkin dipahami dari nash itu. Sebaliknya jika dalam berijtihad, ia tidak menemukan satu nashpun yang dapat dijadikan dasar ijtihadnya, maka dalam berijtihad ia tidak boleh melampaui kaidah-kaidah umum agama Islam, karena itu ia boleh menggunakan dalil-dalil yang bukan nash, seperti qiyas, istihsan dan sebagainya. Jika semua mujtahid telah melakukan seperti yang demikian itu, maka hasil ijtihad yang telah dilakukannya tidak akan jauh menyimpang atau menyalahi al-Qur'an dan al-Hadits, karena semuanya dilakukan berdasar petunjuk kedua dalil ltu. Jika seorang mujtahid boleh melakukan seperti ketentuan di atas, kemudian pendapatnya boleh diamalkan, tentulah hasil pendapat mujtahid yang banyak yang sama tentang hukum suatu peristiwa lebih utama diamalkan.

3. Rukun-rukun ijma'
Dari definisi dan dasar hukum ijma' di atas, maka ulama ushul fiqh menetapkan rukun-rukun ijma' sebagai berikut:
1. Harus ada beberapa orang mujtahid dikala terjadinya peristiwa dan para mujtahid itulah yang melakukan kesepakatan (menetapkan hukum peristiwa itu. Seandainya tidak ada beberapa orang mujtahid di waktu terjadinya suatu peristiwa tentulah tidak akan terjadi ijma', karena ijma' itu harus dilakukan oleh beberapa orang.
2. Yang melakukan kesepakatan itu hendaklah seluruh mujtahid yang ada dalam dunia Islam. Jika kesepakatan itu hanya dilakukan oleh para mujtahid yang ada pada suatu negara saja, maka kesepakatan yang demikian belum dapat dikatakan suatu ijma'.
3. Kesepakatan itu harus dinyatakan secara tegas oleh setiap mujtahid bahwa ia sependapat dengan mujtahid-mujtahid yang lain tentang hukum (syara') dari suatu peristiwa yang terjadi pada masa itu. Jangan sekali-kali tersirat dalam kesepakatan itu unsur-unsur paksaan, atau para mujtahid yang diharapkan kepada suatu keadaan, sehingga ia harus menerima suatu keputusan. Kesepakatan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti dengan pernyataan lisan, dengan perbuatan atau dengan suatu sikap yang menyatakan bahwa ia setuju atas suatu keputusan hukum yang telah disetujui oleh para mujtahid yang lain. Tentu saja keputusan yang terbaik ialah keputusan sebagai hasil suatu musyawarah yang dilakukan para mujtahid.
4. Kesepakatan itu hendaklah merupakan kesepakatan yang bulat dari seluruh mujtahid. Seandainya terjadi suatu kesepakatan oleh sebahagian besar mujtahid yang ada, maka keputusan yang demikian belum pasti ke taraf ijma'. Ijma' yang demikian belum dapat dijadikan sebagai hujjah syari'ah.

4. Kemungkinan terjadinya ijma'
Jika diperhatikan sejarah kaum muslimin sejak zaman Rasulullah SAW sampai sekarang, dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya ijma', maka ijma' dapat dibagi atas tiga periode, yaitu:
1. Periode Rasulullah SAW;
2. Periode Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan Khalifah Umar bin Khattab; dan
3. Periode sesudahnya.
Pada masa Rasulullah SAW, beliau merupakan sumber hukum. Setiap ada peristiwa atau kejadian, kaum muslimin mencari hukumnya pada al-Qur'an yang telah diturunkan dan hadits yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. Jika mereka tidak menemukannya dalam kedua sumber itu, mereka langsung menanyakannya kepada Rasulullah. Rasululah adakalanya langsung menjawabnya, adakalanya menunggu ayat al-Qur'an turunkan Allah SWT. Karena itu kaum muslimin masih satu, belum nampak perbedaan pendapat yang menetapkan hukum suatu peristiwa atau kejadian yang mereka alami.
Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, kaum muslimin kehilangan tempat bertanya, namun mereka telah mempunyai pegangan yang lengkap, yaitu al-Qur'an dan al-Hadits. Jika ada kejadian atau peristiwa yang memerlukan penetapan hukum, mereka berijtihad, tetapi belum ada bukti yang nyata bahwa mereka telah berijma'. Seandainya ada ijma' itu, kemungkinan terjadi pada masa khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar atau sedikit kemungkinan pada masa enam tahun pertama Khalifah Utsman. Hal ini adalah karena pada masa itu kaum muslimin masih satu, belum ada perbedaan pendapat yang tajam diantara kaum muslimin, disamping daerah Islam belum begitu luas, masih mungkin mengumpulkan para sahabat atau orang yang dipandang sebagai mujtahid.
Setelah enam tahun bahagian kedua kekhalifahan Utsman, mulailah nampak gejala-gejala perpecahan di kalangan kaum muslimin. Hal ini dimulai dengan tindakan Utsman mengangkat anggota keluarganya sebagai penjabat jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan (nepotisme). Setelah Khalifah Utsman terbunuh, perpecahan di kalangan kaum muslimin semakin terjadi, seperti peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu'awiyah bin Abu Sofyan, peperangan antara Ali bin Abi Thalib dengan Aisyah yang terkenal dengan perang Jamal, timbul golongan Khawarij, golongan Syi'ah golongan Mu'awiyah dan sebagainya. Demikianlah perselisihan dan perpecahan itu terjadi pula semasa dinasti Amawiyah, semasa dinasti Abbasiyah, semasa dinasti Fathimiyah dan sebagainya, sehingga dana dan tenaga umat Islam terkuras dan habis karenanya.
Disamping itu daerah Islam semakin luas, sejak dari Asia Tengah (Rusia Selatan sekarang) sampai kebagian tengah benua Afrika, sejak ujung Afrika Barat sampai Indonesia, Tiongkok Selatan, Semenanjung Balkan dan Asia Kecil. Karena itu amat sukar melakukan ijma' dalam keadaan dan luas daerah yang demikian.
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Ijma' tidak diperlukan pada masa Nabi Muhammad SAW;
2. Ijma' mungkin terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar bin Khattab, dan enam tahun pertama Khalifah Utsman; dan c. Setelah masa enam tahun kedua pemerintahan Khalifah Utsman sampai saat ini tidak mungkin terjadi ijma' sesuai dengan rukun-rukun yang telah ditetapkan di atas, mengingat keadaan kaum muslim yang tidak bersatu serta luasnya daerah yang berpenduduk Islam.
Pada masa sekarang telah banyak berdiri negara-negara Islam yang berdaulat atau suatu negara yang bukan negara Islam tetapi penduduknya mayoritas beragama Islam atau minoritas penduduknya beragama Islam. Pada negara-negara tersebut sekalipun penduduknya minoritas beragama Islam, tetapi ada peraturan atau undang-undang yang khusus bagi umat Islam. Misalnya India, mayoritas penduduknya beragama Hindu, hanya sebagian kecil yang beragama Islam. Tetapi diberlakukan undang-undang perkawinan khusus bagi umat Islam. Undang-undang itu ditetapkan oleh pemerintah dan parlemen India setelah musyawarah dengan para mujtahid kaum muslimin yang ada di India. Jika persepakatan para mujtahid India itu dapat dikatakan sebagai ijma', maka ada kemungkinan terjadinya ijma' pada masa setelah Khalifah Utsman sampai sekarang sekalipun ijma' itu hanya dapat dikatakan sebagai ijma' lokal.
Jika demikian dapat ditetapkan definisi ijma', yaitu keputusan hukum yang diambil oleh wakil-wakil umat Islam atau para mujtahid yang mewakili segala lapisan masyarakat umat Islam. Karena dapat dikatakan sebagai ulil amri sebagaimana yang tersebut pada ayat 59 surat an-Nisâ' atau sebagai ahlul halli wal 'aqdi. Mereka diberi hak oleh agama Islam untuk membuat undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengatur kepentingan-kepentingan rakyat mereka.
Hal yang demikian dibolehkan dalam agam Islam. Jika agama Islam membolehkan seorang yang memenuhi syarat-syarat mujtahid untuk berijtihad, tentu saja beberapa orang mujtahid dalam suatu negara boleh pula bersama-sama memecahkan permasalahan kaum muslimin kemudian menetapkan suatu hukum atau peraturan. Pendapat sebagai hasil usaha yang dilakukan orang banyak tentu lebih tinggi nilainya dari pendapat yang dilakukan oleh orang seorang.

4. Macam-macam ijma'

Sekalipun sukar membuktikan apakah ijma' benar-benar terjadi, namun dalam kitab-kitab fiqh dan ushul fiqh diterangkan macam-macam ijma'. Diterangkan bahwa ijma' itu dapat ditinjau dari beberapa segi dan tiap-tiap segi terdiri atas beberapa macam.
Ditinjau dari segi cara terjadinya, maka ijma' terdiri atas:
1. ljma' bayani, yaitu para mujtahid menyatakan pendapatnya dengan jelas dan tegas, baik berupa ucapan atau tulisan. Ijma' bayani disebut juga ijma' shahih, ijma' qauli atau ijma' haqiqi;
2. Ijma' sukuti, yaitu para mujtahid seluruh atau sebahagian mereka tidak menyatakan pendapat dengan jelas dan tegas, tetapi mereka berdiam diri saja atau tidak memberikan reaksi terhadap suatu ketentuan hukum yang telah dikemukakan mujtahid lain yang hidup di masanya. Ijma' seperti ini disebut juga ijma' 'itibari.
Ditinjau dari segi yakin atau tidaknya terjadi suatu ijma', dapat dibagi kepada:
1. ljma' qath'i, yaitu hukum yang dihasilkan ijma' itu adalah qath'i diyakini benar terjadinya, tidak ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijma' yang dilakukan pada waktu yang lain;
2. ljma' dhanni, yaitu hukum yang dihasilkan ijma' itu dhanni, masih ada kemungkinan lain bahwa hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan berbeda dengan hasil ijtihad orang lain atau dengan hasil ijma' yang dilakukan pada waktu yang lain.
Dalam kitab-kitab fiqh terdapat pula beberapa macam ijma' yang dihubungkan dengan masa terjadi, tempat terjadi atau orang yang melaksanakannya. Ijma'-ijma' itu ialah:
1. Ijma' sahabat, yaitu ijma' yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW;
2. Ijma' khulafaurrasyidin, yaitu ijma' yang dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan pada masa ke-empat orang itu hidup, yaitu pada masa Khalifah Abu Bakar. Setelah Abu Bakar meninggal dunia ijma' tersebut tidak dapat dilakukan lagi;
3. Ijma' shaikhan, yaitu ijma' yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab;
4. Ijma' ahli Madinah, yaitu ijma' yang dilakukan oleh ulama-ulama Madinah. Ijma' ahli Madinah merupakan salah satu sumber hukum Islam menurut Madzhab Maliki, tetapi Madzhab Syafi'i tidak mengakuinya sebagai salah satu sumber hukum Islam;
5. Ijma' ulama Kufah, yaitu ijma' yang dilakukan oleh ulama-ulama Kufah. Madzhab Hanafi menjadikan ijma' ulama Kufah sebagai salah satu sumber hukum Islam.

6. Obyek ijma'
Obyek ijma' ialah semua peristiwa atau kejadian yang tidak ada dasarnya dalarn al-Qur'an dan al-Hadits, peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan ibadat ghairu mahdhah (ibadat yanng tidak langsung ditujukan kepada Allah SWT) bidang mu'amalat, bidang kemasyarakatan atau semua hal-hal yang berhubungan dengan urusan duniawi tetapi tidak ada dasarnya dalam al-Qur'an dan al-Hadits.










DAFTAR PUSTAKA


Syafi’I, Rahmat. 1999, Ilmu Ushul Fiqih, Pustaka Setia : Bandung
Read More.. temscope='' itemtype='http://data-vocabulary.org/Review'> Description: USHUL FIQH IJMA’ PENGERTIAN,DASAR HUKUM DAN MACAM-MACAMNYA
Rating: 4.5
Reviewer: Erik Yonanda S.Pd.I
ItemReviewed: USHUL FIQH IJMA’ PENGERTIAN,DASAR HUKUM DAN MACAM-MACAMNYA

PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING

Written By Erik Yonanda S.Pd.I on Selasa, 02 November 2010 | Selasa, November 02, 2010


PENGANTAR PENDIDIKAN
Tentang
PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING

Disusun oleh :
1. Erik yonanda
2. Gito Romi
Dosen pembimbing :
Shinta shaini, S.Ag

YAYASAN PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM SUMATRA BARAT (UISB)
SOLOK NAN INDAH
(YP3 UISB SNI)
2010 / 2011

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini,
Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Tim penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih dari jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, tim penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Akhirnya tim penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Solok, Oktober 2010




Penyusun










BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Ssitem Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat, bangsa dan negara. Lebih lanjut, mengenai fungsi pendidikan dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak sertaperadaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan dua batasan di atas, maka pendidikan di Indonesia ini tidak hanya memprioritaskan perkembangan aspek kognitif atau pengetahuan peserta didik, namun juga tetapi perkembangan individu sebagai pribadi yang unik secara utuh. Oleh karena setiap satuan pendidikan harus memberikan layanan yang dapat memfasilitasi perkembangan pribadi siswa secara optimal berupa bimbingan dan konseling. Pemahaman mengenai apa dan bagaimana layanan bimbingan di sekolah mutlak diperlukan oleh pengawas. Hal ini merupakan bagian dari kompetensi supervisi manajerial yang harus dilakukannya terhadap setiap sekolah yang berada dalam lingkup binaannya.
















BAB II
PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, PRINSIP DAN AZAS-AZAS
BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH


A. Pengertian Bimbingan dan Konseling di Sekolah

1. Pengertian Bimbingan

Untuk memperoleh pengertian yang jelas tentang “bimbingan”, berikut dikutipkan pengertian bimbingan (guidance) menurut beberapa sumber. Year Book of Education (1955) menyatakan bahwa: guidance is a process of helping individual through their own ffort to discover d develop their potentialisties both for personal happiness and social usefulness. Definisi yang diungkapkan oleh Miller (dalam Jones, 1987) nampaknya merupakan definisi yang lebih mengarah pada pelaksanaan bimbingan di sekolah. Definisi tersebut menjelaskan bahwa: “Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahan diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga, serta masyarakat”. Dari definisi-definisi di atas, dapatlah ditarik kesimpulan tentang apa sebenarnya bimbingan itu, sebagai berikut.

a. Bimbingan berarti bantuan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang memerlukannya. Perkataan “membantu' berarti dalam bimbingan tidak ada paksaan, tetapi lebih menekankan pada pemberian peranan individu kearah tujuan yang sesuai dengan potensinya. Jadi dalam hal ini, pembimbing sama sekali tidak ikut menentukan pilihan atau keputusan dari orang yang dibimbingnya. Yang menentukan pilihan atau keputusan adalah individu itu sendiri.
b. Bantuan (bimbingan) tersebut diberikan kepada setiap orang, namun prioritas diberikan kepada individu-individu yang membutuhkan atau benar-benar harus dibantu. Pada hakekatnya bantuan itu adakah untuk semua orang.
c. Bimbingan merupakan suatu proses kontinyu, artinyan bimbingan itu tidak diberikanhanya sewaktu-waktu saja dan secara kebetulan, namun merupakan kegiatan yang terus menerus, sistematika, terencana dan terarah pada tujuan.
d. Bimbingan atau bantuan diberikan agar individu dapat mengembangkan dirinya seamaksimal mungkin. Bimbingan diberikan agar individu dapat lebih mengenal dirinya sendiri (kekuatan dan kelemahannya), menerima keadaan dirinya dan dapat mengarahkan dirinya sesuai dengan kemampuannya.
e. Bimbingan diberikan agar individu dapat menyesuaikan diri secara harmonis dengan lingkungannya, baik lingkungan keluarga, skolah ndan masyarakat.

Dalam penerapannya di sekolah, definisi-definisi tersebut di atas
menuntut adanya hal-hal sebagai berikut:

a. Adanya organisasi bimbingan di mana terdapat pembagian tugas, peranan dan tanggungjawab yang tegas di antara para petugasnya;
b. Adanya program yang jelas dan sistematis untuk: (1) melaksanakan penelitian yang mendalam tentang diri murid-murid, (2) melaksanakan penelitian tentang kesempatan atau peluang yang ada, misalnya: kesempatan pendidikan, kesempatan pekerjaan, masalahmasalah yang berhubungan dengan human relations, dan sebagainya, (3) kesempatan bagi murid untuk mendapatkan bimbingan dan konseling secara teratur.
c. Adanya personil yang terlatih untuk melaksanakan program-program tersebut di atas, dan dilibatkannya seluruh staf sekolah dalam pelaksanaan bimbingan;
d. Adanya fasilitas yang memadai, baik fisik mupun non fisik (suasana, sikap, dan sebagainya);
e. Adanya kerjasama yang sebaik-baikya antara sekolah dan keluarga,lembaga-lembaga di masyarakat, baik pemerintah dan nonpemerintah.


B. Fungsi Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Pelayanan bimbingan dan konseling mengemban sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling.

Fungsi-fungsi tersebut adalah :
a. Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik pemahaman meliputi

 Pemahaman tentang diri sendiri peserta didik terutama oleh pesert didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.
 Pemahaman tentang lingkungan peserta didik (termasuk didalamnya lingkungan keluarga dan sekolah) terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua, guru pada umumnya dan guru pembimbing.
 Pemahaman lingkungan yang lebih luas (termasuk didalamnya informasi jabatan/pekerjaan, informasi social dan budaya/nilainilai) terutama oleh peserta didik.


b. Fungsi pencegahan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya dan terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.

c. Fungsi penuntasan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh peserta didik.

d. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangkannya berbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling untuk mencapai hasil sebagaimana terkandung didalam masing-masing fungsi itu. Setiap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan harus secara langsung
mengacu kepada satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasilhasil yang dicapainya secara jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi.

D. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Sejumlah prinsip mendasari gerak dan langkah penyelenggaraan
pelayanan bimbingan dan konseling. Prinsip ini berkaitan dengan tujuan,
sasaran layanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung serta berbagai aspek
operasional pelayanan bimbingan dan konseling. Dalam layanan bimbingan
dan konseling perlu diperhatikan sejumlah prinsip yaitu:
1. Prinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran layanan.
a. Bimbingan dan konseling melayani semua individu tanpa memandang
umur, jenis kelamin, suku agama dan status social ekonomi.
b. Bimbingan dan konseling berurusan denga pribadi dan tingkah laku
individu yang unik dan dinamis.
c. Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan
berbagai aspek perkembangan individu. Bimbingan dan konseling
memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual yagn
menjadi orientasi pokok pelayanan.
2. Prinsi-prinsip berkenaan dengan permasalahan individu.
a. Bimbingan dan konseling berurusan dengan hal yang menyangkut
pengaruh kondisi mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya
di rumah, di sekolah, serta dalam kaitannya dengan kontrak sosial,
pekerjaan dan sebaliknya pengaruh lingkungan tehadap kondisi
mental dan fisik individu.
b. Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan faktor
timbulnya masalah pada individu yang kesemuanya menjadi perhatian
utama pelayanan bimbingan dan konseling.
3. Prinsip-prinsip berkenaan dengan program layanan.
10
a. Bimbingan dan konseling merupakan bagian dari integral dari upaya
pendidikan dan pengembangan individu, oleh karena itu program
bimbingan dan konseling harus diselaraskan dan dipadukan dengan
program pendidikan serta pengembangan peserta didik
b. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dengan
kebutuhan individu, masyarakat dan kondisi lembaga program
bimbingan dan konseling disusun secara berkelanjutan dari jenjang
pendidik yang terendah sampai tertinggi
c. Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling perlu
diarahkan yang teratur dan terarah
4. Prinsip-prinsip berkenaan dengan tujuan dan pelaksanaan pelayanan:
a. Bimbingan dan konseling harus diarahkan untuk pengembangan
individu yang akhirnya mampu membimbing diri sendiri dalam
menghadapi permasalahan
b. Dalam proses bimbingan dan konseling keputusan yang diambil dan
akan dilaksanakan oleh individu hendaknya atas kemampuan individu
itu sendiri bukan karena kemauan atau desakan dari pembimbing atau
pihak lain
c. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang
yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi
d. Kerjasama antara guru pembimbing, guru lain dan orang tua yang
akan menentukan hasil bimbingan
e. Pengembangan program pelayanan bimbingan dan konseling
ditempuh melalui pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran
dan penilaian terhadap individu yang terlibat dalam proses pelayanan
dan program bimbingan dan konseling itu sendiri.
E. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Penyelanggaraan layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling selain
dimuati oleh fungsi dan didasarkan pada prinsip-prinsip bimbingan, juga
dituntut untuk memenuhi sejumlah asas bimbingan. Pemenuhan atas asa-asas
itu akan memperlancar pelakasanaan dan lebih menjamin keberhasilan
layanan/kegiatan, sedangkan pengingkarannya akan dapat menghambat atau
11
bahkan menggagalkan pelaksanaan serta mengurangi atau mengaburkan hasil
layanan kegiatan dengan membayar SPP penuh itu sendiri. Asas-asas itu
sendiri ialah :
1. Asas kerahasiaan yaitu asas bimbingan dan konseling yang menuntut
dirahasiakannya sejumlah data dan keterangan peserta didik (klien)
yang menjadi sasaran layanan yaitu data atau keterangannya yang
tidak boleh dan tidak layak diketahui orang lain. Dalam hal ini guru
pembimbing berkewajiban penuh memiliki dan menjaga semua data
dan keterangan itu sehingga kerahasiaannya benar-benar tejamin.
2. Asas kesukarelaan yaitu asas bimbingan dan konseling yang
mengkehendaki adanya kesukarelaaan dan kerelaan peserta didik
(klien) mengikuti/menjalani layanan/kegiatan yang diperuntukan
baginya. Dalam hal ini guru pembimbing berkewajiban membina dan
mengembangkan kesukarelaan seperti itu.
3. Asas keterbukaan
4. Yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki agar peserta
didik (klien) yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap trerbuka
dan tidak berpura-pura, baik di dalam keterangan tentang dirinya
sendiri maupun berbagai informasi dan materi dari luar yang berguna
bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini Guru Pembimbing
berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik (klien).
Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas kerahasiaan
dan adanya kesukarelaan pada diri peserta didik yang menjadi
sasaran/layanan kegiatan. Agar peserta didik dapat terbuka, Guru
Pembimbing terlabih dahulu harus bersikap terbuka dan tidak berpurapura.
5. Asas kegiatan, yatiu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki
agar peserta didik (klien) yang menjadi sasaran berpatrisipasi secara
aktif di dalam penyelenggaraan layanan/kegiatan bimbingan. Dalam
hal ini Guru Pembimbing perlu mendorong peserta didik untuk aktif
dalam setiap layanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang
diperuntukan baginya.
6. Asas kemandirian, yaitu bimbingan dan konseling yang menunjuk
pada tujuan umum bimbingan dan konseling, yaitu : peserta didik
12
(klien) sebagai sasaran layanan bimbingan dan konseling diharapkan
menjadi individu-individu yagn mandiri dengan ciri-ciri mengenal dan
menerima diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil
keputusan, mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri sebagaimana
telah diutarakan terdahulu. Guru Pembimbing hendaknya mampu
mengarahkan segenap layanan bimbingan dan konseling yang
diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.
7. Asas kekinian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki
agar obyek sasaran layanan bimbingan dan konseling ialah
permasalahan peserta didik (klien) dalam kondisinya sekarang.
Layanan yang berkenaan dengan ”masa depan atau kondisi masa
lampaupun” dilihat dampak dan atau kaitannya dengan kondisi yang
ada dan apa yang dapat diperbuat sekarang.
8. Asas kedinamisan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar isi layanan terhadap sasaran layanan (klien) yang
sama kehendaknya selalu bergerak maju, tidak monoton, dan terus
berkembang serta berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan tahap
perkembangannya dari waktu ke waktu.
9. Asas keterpaduan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar berbagai layanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling, baik yang dilakukan oleh Guru Pembimbing maupun pihak
lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Untuk ini kerjasama
antara Guru Pembimbing dan pihak-pihak yang berperan dalam
penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling perlu terus
dikembangkan. Koordinasi segenap layanan/kegiatan bimbingan dan
konseling itu harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
10. Asas kenormatifan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar segenap layanan dan bimbingan dan konseling
didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai dan
norma-norma yang ada, yaitu norma-norma agama, hukum dan
peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan yang berlaku.
Bukanlah layanan atau kegiatan bimbingan dan konseling yang dapat
dipertanggungjawabkan apabila isi dan dan pelaksanaannya tidak
berdasarkan norma-norma yang dimaksudkan itu. Lebih jauh, layanan
13
dan kegiatan bimbingan dan konseling justru harus dapat
meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) memahami,
menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.
11. Asas keahlian, yaitu asas bimbingan dan konseling yang menghendaki
agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan
atas dasar kaidah-kaidah professional. Dalam hal ini, para pelaksana
layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling hendklah tenaga yang
benar-benar ahli dalam bidang bimbingan dan konseling.
Keprofesionalan Guru Pembimbing harus terwujud baik dalam
penyelenggaraan jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan
konseling maupun dalam penegakan kode etik bimbingan dan
konseling.
12. Asas alih tangan, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan
layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu
permasalahan peserta didik (klien) mengalihtangankan permasalahan
itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru Pembimbing dapat menerima
alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain dan
demikian pula Guru Pembimbing dapat mengalihtangankan kasus
kepada Guru Mata Pelajaran/Praktik dan ahli-ahli lain.
13. Asas tut wuri handayani, yaitu asas bimbingan dan konseling yang
menghendaki agar pelayanan bimbingan dan konseling secara
keseluruhan dapat menciptakan suasana yang mengayomi
(memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan, memberikan
rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang seluas-luasnya
kepada peserta didik (klien) untuk maju. Demikian juga segenap
layanan/kegiatan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan
hendaknya disertai dan sekaligus dapat membangun suasana
pengayoman, keteladanan dan dorongan seperti itu. Selain asas-asas
tersebut saling terkait satu sama lain, segenap asas itu perlu
diselenggarakan secara terpadu dan tepat waktu, yang satu tidak perlu
dikedepankan atau dikemudiankan dari yang lain. Begitu pentingnya
asas-asas tersebut sehingga dapat dikatakan bahwa asas-asas itu
merupakan jiwa dan nafas dari seluruh kehidupan pelayanan
14
bimbingan dan konseling. Apabila asas-asas itu tidak dijalankan
dengan baik penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling
akan tersendat-sendat atau bahkan berhenti sama sekali.
15
RUANG LINGKUP BIMBINGAN DAN KONSELING
Dalam dunia pendidikan tentu kita mengenal mengenai bimbingan konseling, tujuan utama pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar, yaitu untuk membantu siswa agar dapat memenuhi tugas-tugas perkembangan yang meliputi aspek sosial pribadi, pendidikan dan karir sesuai dengan tuntutan lingkungan dan masyarakat, ada beberapa bidang garapan dari bimbingan dan konseling ini, bidang bimbingan yang akan diberikan meliputi tiga bidang garapan



adapun 3 bidang tersebut,yakni:
1. Bimbingan sosial pribadi yang memuat layanan bimbingan yang bersentuhan dengan:
• Pemahaman diri.
• Mengembangkan sikap positif
• Membuat pilihan kegaiatan secara sehat
• Menghargai orang lain
• Mengembangkan rasa tanggungjawab
• Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi
• Keterampilan menyelesaikan masalah
• Membuat keputusan secara baik

2. Bimbingan Pengembangan Pendidikan, memuat layanan yang berkenaan dengan:
• Belajar yang benar
• Menetapkan tujuan dan rencana pendidikan
• Mencapai prestasi belajar secara optimal sesuai dengan bakat dan kemampuannyaKeterampilan untuk menghadapi ujian
3. Bimbingan pengembangan karier, meliputi:

• Mengenali macam-macam dan ciri-ciri berbagai jenis pekerjaan
• Menentukan cita-cita dan merencanakan masa depan
• Mengeksplorasi arah pekerjaan
• Menyesuaikan keterampilan, kemampuan dan minat dengan jenis pekerjaan
Adapun menurut para ahli, layanan Bimbingan dan Konseling meliputi empat bidang garapan, seperti yang dikemukakan oleh Muro dan Kottman (Ahman, 1998;2530) yakni:

1. Layanan Dasar Bimbingan
Layanan ini bertujuan untuk membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan dasar untuk kehidupannya, dengan muatan materi yakni
• Self esteem
• Motivasi berprestasi
• Keterampilan pengambilan keputusan, merumuskan tujuan dan membuat perencanaan
• Keterampilan pemecahan masalah
• Kefektifan dalam hubungan antar pribadi
• Keterampilan berkomunikasi
• Keefektifan dalam memahami lintas budaya
• Prilaku yang bertanggungjawab

2. Layanan responsif
Layanan ini bertujuan untuk mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian siswa yang muncul segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial pribadi dan karier atau masalah perkembangan pendidikan, muatan materinya mencakup:

• Kesuksesan akademik
• Kenakalan anak
• Masalah putus sekolah
• Kehadiran
• Sikap dan prilaku terhadap sekolah
• Hubungannya dengan teman sebaya
• Keterampilan studi
• Penyesuaian di sekolah baru

3. Sistem perencanaan individual
Tujuan layanan ini adalah membantu siswa untuk merencanakan, memonitor dan mengelola rencana pendidikan, karir dan pengembangan sosial pribadi oleh dirinya sendiri. Dengan kata lain, melalui sistem perencanaan individual siswa dapat:
• Mempersiapkan pendidikan, karir, tujuan sosial pribadi yang didasarkan atas pengetahuan akan dirinya, informasi tentang sekolah, dunia kerja, dan masyarakat.
• Merumuskan rencana untuk mencapai tujuan jangka pendek, jangka menengah, dan tujuan jangka panjang.
• Menganalisis kekuatan dan kelemahan dirinya dalam rangka pencapaian tujuannya
• Mengukur tingkat pencapaian tujuan dirinya
• Mengambil keputusan yang merefleksikan perencanaan dirinya

4. Sistem pendukung
Komponen sistem pendukung lebih diarahkan kepada pemberian layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung bermanfaat bagi siswa. Layanan ini mencakup:
• Konsultasi dengan guru-guru
• Dukungan bagi program pendidikan orang tua dan upaya-upaya masyarakat
• Partisipasi dalam kegiatan sekolah bagi peningkatan perencanaan dan tujuan
• Implementasi dan program standarisasi instrumen tes
• Kerja sama dalam melaksanakan riset yang relevan
• Memberikan masukan terhadap pembuat keputusan dalam kurikulum pengajaran, berdasarkan perspektif siswa



Daftar Pustaka


Furqon, Ph.D (editor). 2005. Konsep dan Aplikasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Muhibbin Syach, Drs., M.Ed. 1995, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya
Sukmadinata, Nana Syaodih. Prof. Dr. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya
Read More.. temscope='' itemtype='http://data-vocabulary.org/Review'> Description: PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING
Rating: 4.5
Reviewer: Erik Yonanda S.Pd.I
ItemReviewed: PENGANTAR BIMBINGAN DAN KONSELING

RAGAM BAHASA


BAHASA INDONESIA
Tentang
RAGAM BAHASA

BAB I 
PENDAHULUAN  
1. LATAR BELAKANG 

Bahasa adalah sesuatu yang hidup. Sebagai sesuatu yang hidup, ia tentu mengalami perkembangan.Dan perkembangan berarti perubahan. Perubahan itu terjadi, oleh karena bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Keterikatan dan keterkaitan bahasa dengan manusia itulah yang mengakibatkan bahasa itu menjadi tidak statis, atau meminjam istilah Chaer (1994:53) bahwa bahasa itu dinamis.
Kecenderungan studi bahasa yang memisahkan bahasa dengan dimensi pemakai dan pemakaiannya (konteks sosialnya) inilah yang kemudian mengilhami lahirnya pendekatan baru dalam studi bahasa yaitu sosiolinguistik. Dalam hal ini, objek studi bahasa dalam pandangan sosiolingustik bukan hanya semata dilihat dari sistem atau kaidah-kaidah bahasa itu, melainkan juga pada konteks dan komunikatifnya. Sejalan dengan ini Tallei (1997) menyatakan bahwa bahasa tidaklah digunakan dalam bentuk kalimat yang terisolasi, melainkan dalam situasi nyata yang dilatarbelakangi oleh konteks dan digunakan untuk tujuan berkomunikasi.

Sehingga dengan demikian objek studi bahasa dalam perspektif sosioliguistik adalah parole (dalam konsep Saussure,1916), atau performansi (dalam konsep Chomsky). Konsep-konsep parole dan performansi itu diabstraksi dari bahasa yang benar-benar digunakan secara aktual. Setiap orang akan menghasilkan parole dan performance secara berbeda. Dari perbedaan itulah kemudian dikenal variasi bahasa..
Pada waktu anggota masyarakat bahasa berinteraksi, mereka menggunakan aturan-aturan yang mereka mengerti bersama tentang bagaimana menyampaikan pesan dan memberikan respon, bagaimana bertanya-jawab, bagaimana memberikan pengahargaan dan sanjungan, bagaimana tanggapan tentang hal itu disampaikan, dan banyak hal lain yang secara rutin dihadapi setiap hari.
Di dalam kehidupannya bermasyarakat, sebenarnya manusia dapat juga menggunakan alat komunikasi lain, selain bahasa. Namun, nampaknya bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik, paling sempurna, dibandingkan dengan alat-alat komunikasi lain.

Oleh karena itu, untuk memahami bagaimana wujud komunikasi yang dilakukan dengan bahasa ini, terlebih dahulu dalam makalah ini akan dibicarakan apa hakikat bahasa, apa hakikat komunikasi, kemudian baru dibicarakan apa dan bagaimana komunikasi bahasa itu, serta apa dan bagaimana kelebihannya dari alat komunikasi lain.




BAB II
PEMBAHASAN

1. Ragam Dan Laras Bahasa

Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Menurut Dendy Sugono (1999 : 9), bahwa sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tak baku. Dalam situasi remi, seperti di sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tak resmi, seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa baku.

Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, yaitu (1) ragam bahasa lisan, (2) ragam bahasa tulis. Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Jadi dalam ragam bahasa lisan, kita berurusan dengan lafal, dalam ragam bahasa tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan). Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.


1.1 Ragam Bahasa

Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang alih-alih disebut sebagai kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata baasa Indonesia ragam baku atau kosa kata bahasa Indonesia baku adalah kosa kata baku bahasa Indonesia, yang memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolok ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi di dalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian, tidak tertutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.
Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi anutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980).
Menurut Felicia (2001 : 8), ragam bahasa dibagi berdasarkan :
1. Media pengantarnya atau sarananya, yang terdiri atas :
a. Ragam lisan.
b. Ragam tulis.
Ragam lisan adalah bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah; dan ragam lisan yang nonstandar, misalnya dalam percakapan antarteman, di pasar, atau dalam kesempatan nonformal lainnya.
Ragam tulis adalah bahasa yang ditulis atau yang tercetak. Ragam tulis pun dapat berupa ragam tulis yang standar maupun nonstandar. Ragam tulis yang standar kita temukan dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis nonstandar dalam majalah remaja, iklan, atau poster.

Contoh Ragam bahasa lisan Ragam bahasa tulis :

1. Putri bilang kita harus pulang = Putri mengatakan bahwa kita harus pulang
2. Ayah lagi baca koran = Ayah sedang membaca koran
3. Saya tinggal di Bogor = Saya bertempat tinggal di Bogor


2. Berdasarkan situasi dan pemakaian

Ragam bahasa baku dapat berupa :
(1) ragam bahasa baku tulis dan
(2) ragam bahasa baku lisan.

Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.

Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis. Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.

Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata) :
1. Tata Bahasa
(Bentuk kata, Tata Bahasa, Struktur Kalimat, Kosa Kata)
A. Ragam bahasa lisan :
  • Nia sedang baca surat kabar
  • Ari mau nulis surat
  • Tapi kau tak boleh nolak lamaran itu.
  • Mereka tinggal di Menteng.
  • Jalan layang itu untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
  • Saya akan tanyakan soal itu
B. Ragam bahasa Tulis :
  • Nia sedangmembaca surat kabar
  • Ari mau menulis surat
  • Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
  • Mereka bertempat tinggal di Menteng
  • Jalan layang itu dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
  • Akan saya tanyakan soal itu.
2. Kosa kata
Contoh ragam lisan dan tulis berdasarkan kosa kata :
A. Ragam Lisan
  • Ariani bilang kalau kita harus belajar
  • Kita harus bikin karya tulis
  • Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak
B. Ragam Tulis
  • Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar
  • Kita harus membuat karya tulis.
  • Rasanya masih terlalu muda bagi saya, Pak.


Istilah lain yang digunakan selain ragam bahasa baku adalah ragam bahasa standar, semi standar dan nonstandar.
  1. Ragam standar,
  2. Ragam nonstandar,
  3. Ragam semi standar.
Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap. Akan tetapi, kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam standar tetap luwes sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modem (Alwi, 1998: 14).

Pembedaan antara ragam standar, nonstandar, dan semi standar dilakukan berdasarkan :
  • topik yang sedang dibahas,
  • hubungan antarpembicara,
  • medium yang digunakan,
  • lingkungan, atau
  • situasi saat pembicaraan terjadi
Read More.. temscope='' itemtype='http://data-vocabulary.org/Review'> Description: RAGAM BAHASA
Rating: 4.5
Reviewer: Erik Yonanda S.Pd.I
ItemReviewed: RAGAM BAHASA
 
Support : Blogger Template Free | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2012. Erick Yonanda - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger